Hepatitis B adalah penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B. Hepatitis B merupakan hepatitis yang lebih berat dan serius dibandingkan dengan hepatitis A karena hepatitis B dapat berujung pada gagal hati, kanker hati dan sirosis. Hepatitis B yang diderita orang dewasa dapat sembuh sempurna tetapi hepatitis B pada anak dapat menjadi kronik.

Gejala hepatitis B sama dengan gejala peradangan hati yang disebabkan oleh hal lain yaitu nyeri perut, urin berwarna gelap, demam, nyeri sendi, tidak napsu makan, lemah dan lelah, kulit kuning, dan mata berwarna kuning.

Penularan Hepatitis B terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita seperti darah, cairan sperma, dan proses kelahiran. Oleh karena itu kelompok yang berisiko adalah petugas kesehatan, pengguna narkoba suntik, berhubungan seksual dengan lebih dari satu partner, dan bayi dengan ibu Hepatitis B positif.

Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan untuk mendeteksi hepatitis B?

Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan HBsAg dan anti-HBsAg. Pasien dikatakan menderita hepatitis B jika ditemukan HBs Ag positif, sedangkan jika HBsAg negatif dan anti-HBs Ag positif dapat berarti pasca sakit hepatitis yang sudah sembuh atau pasca imunisasi hepatitis B. Pasien yang dinyatakan positif hepatitis B perlu melakukan pemeriksaan lain untuk melihat derajat keaktifan virus dan keparahan penyakit seperti HBeAg, kadar DNA virus, penilaian enzim hati, dan penyakit penyerta lain yang lazim ditemukan pada penderita hepatitis B (Hepatitis D, Hepatitis C, dan HIV). Pada orang dewasa juga ditambahkan pemeriksaan untuk mendeteksi sel kanker hati.

Bagaimana mencegah hepatitis B?

Hepatitis B dapat dicegah dengan memberikan imunisasi. Imunisasi pertama diberikan kurang dari 12 jam setelah bayi dilahirkan. Pemberian imunisasi hepatitis B sedini mungkin sangat membantu mencegah terjangkit Hepatitis B. Perlindungan maksimal harus didapatkan segera setelah lahir. Hal tersebut disebabkan karena semakin dini terinfeksi Hepatitis B maka kemungkinan menderita hepatitis B kronik dan kanker hati semakin tinggi. Seorang bayi yang terinfeksi Hepatitis B memiliki risiko 90% untuk menderita Hepatitis Kronik dan berujung kanker hati, dibandingkan dengan orang dewasa yang memiliki risiko 5% untuk menderita Hepatitis B kronik.  Sebelum penyakit hepatitis B menjadi berat, biasanya hepatitis B tidak bergejala sehingga pencegahan paling baik adalah imunisasi sedini mungkin (kurang dari 12 jam setelah lahir) dan dianjurkan untuk mendapatkan imunisasi hepatitis B sebanyak 3 kali sesuai jadual yang dianjurkan yaitu 0 bulan, 1 bulan dan 6 bulan.

Bagaimana terapi hepatitis B?

Tujuan terapi hepatitis B adalah mencegah progresivitas penyakit. Terapi interferon diberikan pada pasien hepatitis B kronik dengan kadar DNA virus di atas > 2000 UI/ml, atau nilai HBe-Ag positif atau adanya tanda kerusakan hati yang signifikan.  Sedangkan pada pasien dengan hepatitis B positif dan tidak bergejala juga tidak memenuhi kriteria di atas, pemeriksaan rutin setiap satu tahun sekali perlu diakukan untuk deteksi dini keparahan penyakit. Pemeriksaan rutin tersebut adalah enzim hati (SGOT dan SGPT) serta petanda kanker hati (alfafetoprotein).

Ibu hamil dengan hepatitis B positif.

Ibu hamil dengan hepatitis B positif harus mencari rumah sakit yang dapat memberikan suntikan immunoglobulin kepada bayinya. Immunoglobulin ersebut harus diberikan segera setelah bayi lahir bersamaan dengan vaksinasi hepatitis B. Selanjutnya, bayi dapat menyusu kepada ibu dan mendapatkan vaksinasi hepatitis B sesuai jadual. Tiga bulan setelah dosis vaksinasi yang terakhir, bayi dilakukan pemeriksaan antibodi hepatitis B. Jika kadar antibodi kurang dari 10 unit per liter maka imunisasi hepatitis B perlu diulang sebanyak 3 kali lagi. Pemeriksaan antibodi ini tidak perlu dilakukan jika ibu bukan pengidap hepatitis B. Proteksi imunisasi hepatitis B dapat mencapai 10 tahun. (WIN)

Sumber:

Medscape

CDC

Mayo clinic

Share artikel ini: