Banyak berita di sosial media dan pesan dari grup WA mengenai COVID-19. Bagaimana saya membedakan itu hoax atau tidak?

Pertama, jangan langsung tekan tombol share/bagikan karena anda bertanggung jawab untuk melakukan verifikasi data sebelum membagikannya kepada orang lain. Kedua, jika anda tidak punya waktu untuk melakukan verifikasi, sebaiknya tidak perlu disebarkan.

Bagaimana verifikasi berita hoax?

Sangat melelahkan melakukan penelusuran dan pembuktian apakah berita hoax atau tidak, sebaiknya hanya membaca dari sumber yang terpercaya seperti: lembaga pemerintahan (Depkes RI), lembaga PBB (WHO, UNICEF), institusi profesional (IDAI, AAP).

  • Apabila anda mendapatkan berita yang ditulis oleh seorang praktisi kesehatan maka silahkan melakukan verifikasi di http://www.kki.go.id/cekdokter/form.
  • Apabila terdapat berita-berita yang mengatasnamakan dokter dari luar negeri sebaiknya diacuhkan saja karena anda tidak bisa melakukan verifikasi.
  • Jika mendapatkan berita berupa link maka evaluasi apakah link/website tersebut terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Apakah benar imunomodulator seperti Echinacea dapat mencegah COVID-19?

Tidak benar. Sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah bahwa Echinacea meningkatkan daya tahan tubuh termasuk bukti terhadap pencegahan infeksi COVID-19. Artikel tentang Echinacea : http://milissehatyop.org/echinacea-pada-selesma-common-cold/ .

Apakah kita harus memiliki handsanitizer di rumah untuk mencegah COVID-19?

Tidak benar. Penggunaaan antiseptic/antibakteri di rumah tangga tidak dianjurkan. Antiseptik termasuk hand sanitizer digunakan di fasilitas kesehatan. Artikel tentang antimikroba di rumah tangga: http://milissehatyop.org/perlukah-menggunakan-sabun-antibakteri-di-rumah/. Penggunaan antiseptik yang tidak pada tempatnya akan meningkatkan risiko bakteri kebal antibiotik. Untuk mencegah penyakit termasuk COVID-19 adalah mencuci tangan menggunakan sabun biasa dan air mengalir.

Apakah benar menyinari diri dengan sinar UV dapat mencegah infeksi COVID-19?

Tidak benar. Akhir-akhir ini marak adanya ruangan UV untuk sterilisasi manusia. Selama ini, penyinaran UV dilakukan untuk sterilisasi alat medis namun tidak dilakukan pada manusia. Virus dan mikroba lainnya akan mati pada dosis dan jarak tertentu dengan sinar UV, dan itu bukan dosis yang aman untuk manusia. Sinar matahari menghasilkan sinar UV namun dengan dosis yang sangat kecil. Efek sinar UV pada manusia adalah iritasi kulit dan terbakarnya kulit. WHO tidak menganjurkan penyinaran UV dilakukan pada manusia.

Apakah saya dapat menggunakan pemutih pakaian yang mengandung klorin untuk mencegah infeksi COVID-19?

Akhir-akhir ini banyak masyarakat menggunakan pemutih pakaian yang mengandung klorin sebagai bahan desinfektan di rumah. Klorin selama ini digunakan untuk melakukan pembersihan air yang tercemar seperti air limbah, atau air di tempat publik (air di kolam renang). Penggunaannya pada manusia juga tidak dianjurkan.

Apakah konsumsi vitamin C megadosis dapat mencegah terinfeksi virus COVID-19?

Tidak ada bukti bahwa pemberian vitamin C megadosis mencegah penyakit akibat COVID-19. Terdapat penelitian yang menunjukan efek vitamin C dosis tinggi (> 1000 mg) pada penyakit gangguan napas akibat COVID-19, namun penggunaannya untuk pencegahan belum ada bukti. Konsumsi vitamin C (baik minum maupun disuntik) di atas kebutuhan (kebutuhan orang dewasa sekitar 90 mg /hari) dapat menyebabkan gejala diare, nyeri perut, dan batu ginjal.

Apakah virus dapat dibunuh dengan berkumur air cuka/ air garam atau substansi lainnya?

TIDAK. Berkumur apapun tidak dapat membunuh virus ini. Hati-hati efek samping iritatif dari zat kumur tersebut. Yang sudah terbukti adalah mencuci tangan, menjaga jarak dengan orang lain, menutup hidung dan mulut saat batuk/bersin.

Apakah dengan melakukan vaksinasi bisa mencegah infeksi COVID-19?

Saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi COVID-19. Vaksin yang sekarang tersedia untuk mencegah penyakit tertentu sesuai dengan jenis vaksinnya misalnya vaksin pneumokokus untuk mencegah infeksi pneumokokus, bukan infeksi virus Corona.

Apakah menggunakan antibiotik dapat memperbaiki penyakit COVID-19?

TIDAK. Antibiotik tidak bisa digunakan untuk infeksi virus termasuk COVID-19. Penggunaan antibiotik pada infeksi virus dapat membahayakan dan menimbulkan kekebalan terhadap antibiotik.

Apakah bisa menggunakan isoprinosin untuk membunuh virus COVID-19?

TIDAK. Saat ini obat antivirus Corona masih dalam tahap penelitian. Isoprinosin TIDAK pernah terbukti menjadi antivirus dalam kasus apapun.

Apakah barang-barang online yang saya beli dari daerah terjangkit Covid-19 dapat menginfeksi saya?

TIDAK. Saat ini penelitian membuktikan bahwa penularan COVID-19 melalui droplet dari manusia ke manusia. Selain itu virus tidak bisa berkembang biak di benda mati, virus hanya hidup di benda hidup (seperti manusia). Namun demikian, Virus COVID-19 dapat bertahan beberapa jam sampai hari di permukaan benda mati. Lebih penting mencegah kontak dengan orang dari pada barang.

Apakah negara tropis lebih aman dari virus COVID-19?

TIDAK. Virus COVID-19 dapat hidup di mana-mana dan sekarang sudah menjadi pandemi (mendunia).

Apabila terinfeksi COVID-19 pasti mati?

TIDAK. Berat ringannya gejala tergantung pada daya tahan tubuh seseorang. Kelompok rentan contohnya manula, gangguan imunitas, ibu hamil, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, gangguan ginjal kronik. Anda bisa saja terinfeksi COVID-19 namun tidak merasakan gejala apa-apa, sementara itu anda berpotensi menyebarkan virus ke orang lain. Oleh karena itu ayo di rumah saja. Anda tidak tau apakah anda saat ini positif atau tidak.

Menggunakan masker medis dapat melindungi saya dari COVID-19?

TIDAK. Hanya masker jenis N95 yang dapat menyaring COVID-19. Penggunaan masker medis biasa dapat melindungi orang lain di sekitar anda jika anda bersin/batuk.

Apakah ada jamu dan herbal yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan membunuh virus COVID-19?

TIDAK ADA. TIdak ada bukti vitamin / suplemen/ herbal apapun dapat menyembuhkan penyakit akibat COVID-19. Tingkatkan daya tahan tubuh anda dengan pola hidup sehat yang sewajarnya (makan banyak sayur dan buah, olahraga cukup, hirup udara bersih dan tingkatkan paparan dengan sinar matahari).

Kalau saya dapat menarik napas 10 detik artinya saya sehat dan tidak terinfeksi COVID-19?

TIDAK. Anda dapat saja terinfeksi namun tanpa gejala. Pemeriksaan terakurat adalah swab tenggorokan untuk pemeriksaan DNA virus.

Apakah vaksin influenza mencegah infeksi COVID-19?

TIDAK. Jenis virus Influenza berbeda dengan COVID-19 sehingga vaksin influenza tidak bisa mencegah infeksi COVID-19. Namun demikian, vaksin influenza dapat menurunkan risiko anda terserang flu akibat virus influenza. (WIN)

Sumber:

  1. Coronavirus myth explore.
  2. Coronavirus disease (COVID-19) advice for the public: Myth busters.
  3. Coronavirus : myths and facts.
  4. Corona virus 2019: myth and fact.