Tanggal 7 April adalah hari kesehatan dunia. Setiap tahun, ada tema yang selalu diusung oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan tahun ini adalah keamanan pangan (food safety). From farm to plate, make food safe, itulah tagline tema tahun ini.

Semua orang butuh makanan. Makan adalah salah satu cara bertahan hidup. Sejak di bangku sekolah, kita diajarkan bahwa makanan berasal dari bahan mentah hasil pertanian atau perkebunan, kemudian diolah sedemikian rupa hingga tersaji di piring makan. Proses yang sangat panjang dari mulai produksi, distribusi, hingga ke tangan konsumen. Proses panjang itu pulalah yang memberi “kontribusi” risiko kontaminasi.

Masih  segar di ingatan kita, dunia dihebohkan dengan apel Granny Smith asal Amerika yang terkontaminasi bakteri Listeria di awal tahun 2015. Tak hanya itu, beberapa bulan kemudian muncul wabah hepatitis A setelah warga Australia mengonsumsi buah berry beku yang tercemar dari Cina. Kebersihan di lokasi produksi ditengarai menjadi penyebabnya.

Di dalam negeri, akhir Maret lalu kepolisian menemukan pabrik es batu di Cakung, Jakarta Timur yang menggunakan bahan baku dari air sungai Kalimalang. Sumber air yang tidak aman mengandung bakteri enterik (yang menyerang saluran pencernaan) seperti E. coli dan Salmonella. Diare dan infeksi tifoid, ancamannya. Di Surabaya, Februari lalu, ditemukan pula jajanan yang berasal dari produk kadaluarsa yang seharusnya menjadi pakan ternak. Riset yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selama Januari-Agustus 2014 menyebutkan hampir sepertiga jajanan anak sekolah di 23500 sekolah dasar dan madrasah di Indonesia tercemar kuman dan bahan tambahan pangan yang tidak memenuhi syarat. Jenis jajanan yang paling banyak tercemar adalah es batu, minuman dingin, agar-agar/jelly, dan bakso.

Menurut WHO, Afrika adalah negara yang mempunyai penyakit akibat makanan (foodborne disease) terbanyak, disusul kemudian Asia Tenggara. Lebih dari 40% foodborne disease diderita oleh balita, kelompok usia anak yang seharusnya mendapat pengawasan makanan dari orangtua.

Mencegah foodborne disease perlu tindakan komprehensif dari hulu ke hilir. Penggunaan pupuk kimia di bidang pertanian sudah marak. Antibiotik juga banyak digunakan di peternakan dengan semena-mena sehingga berkontribusi menimbulkan resistensi antibiotik. Ada pula pabrik pengolahan makanan menggunakan bahan baku kadaluarsa dan pewarna makanan sintetik tidak bersertifikat (contoh: rhodamin B, methanil yellow). Proses distribusi dari produsen ke distributor harus memegang prinsip keamanan, termasuk soal kemasan.

Rantai terakhir adalah penyajian makanan. Membeli makanan siap saji dari rumah makan tentu menjadi pilihan instan di tengah kesibukan. Celakanya, kebersihan dan keamanan dari makanan siap saji tersebut sering menjadi pertanyaan. Belum lagi persoalan cara memasak. Deep fried lebih tidak sehat daripada rebus atau kukus. Gorengan garing lebih laku dijual padahal bisa saja proses penggorengannya menggunakan campuran minyak dan plastik. Akibatnya, penyakit metabolik dan degeneratif seperti diabetes, hipertensi dan hiperkolesterol banyak menjangkiti individu di usia muda.

Sebuah tulisan dari Dr. Handrawan Nadesul di surat kabar Kompas 7 April 2015 berjudul “Kesehatan Sejati Ada di Dapur, Bukan di Restoran” sangat menarik. Penulis tersebut menggugah kita untuk mengolah makanan harian sendiri dengan bahan baku yang lebih berkualitas dan cara memasak yang lebih benar. Pada dasarnya, setiap orang berperan untuk mengusahakan makanan yang aman. Mari kita mulai dari keluarga sendiri.(Felix)

Share artikel ini: