Gastroesophageal reflux (GER) sebenarnya proses fisiologis normal yang dapat muncul beberapa hari dalam sehari pada bayi, anak-anak dan dewasa sehat. Kasus GER terjadi pada dua pertiga bayi-bayi sehat dan hampir selalu menjadi topik diskusi para orang tua dengan dokter saat konsultasi rutin 6 bulan pertama.

Penyebab

Umumnya GER berhubungan dengan relaksasi sementara dari spingter bagian bawah esofagus (Lower Esophageal Sphincter, disingkat LES), sehingga isi lambung masuk kembali ke esofagus. LES akan terbuka hanya saat menelan dan akan tertutup erat kembali, sehingga isi lambung akan tetap di tempatnya.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan GER pada bayi dan sering kali tidak dapat dihindari antara lain:

  • Bayi berbaring mendatar hampir sepanjang waktu.

  • Mengkonsumsi menu yang hampir semuanya adalah cairan.

  • Bayi yang lahir prematur.

Terkadang GER pada bayi dapat disebabkan kondisi yang lebih serius seperti:

  • GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), saat reflux disertai cukup banyak asam yang mengiritasi dan merusak bagian dalam esofagus.

  • Pyloric stenosis. Katup antara lambung dan usus halus mengecil, menghambat lambung mengosongkan isinya menuju usus halus.

  • Intoleransi makanan. Biasanya dipicu oleh protein dalam susu sapi.

  • Eosinophilic esophagitis. Jenis sel darah putih tertentu (eosinofil) bertambah banyak dan merusak bagian dalam esofagus.

Gejala

Pada orang dewasa yang sehat, GER cenderung muncul setelah makan selama kurang dari 3 menit, dengan sedikit atau tanpa gejala.

Pada bayi dan anak-anak sehat, gejala yang paling banyak terlihat adalah regurgitasi dan muntah (pada bayi, dalam bahasa Jawa disebut “gumoh”). Kondisi ini sangat jarang berakibat serius, dan akan makin jarang terjadi seiring dengan bertambahnya umur anak. Jarang terjadi GER pada bayi yang berlangsung setelah usia 18 bulan. Amat jarang isi lambung yang mengandung asam mampu mengiritasi kerongkongan atau esofagus dan menimbulkan muncul tanda-tanda dan gejala.

Pada bayi, yang penting untuk diingat bahwa GER adalah kondisi fisiologis normal yang terjadi tanpa memerlukan usaha (effortless), tanpa rasa sakit dan tidak mempengaruhi pertumbuhan anak.

Bawalah bayi atau anak menemui dokter apabila mengalami kondisi berikut ini:

  • Berat badan tidak naik.

  • Terus menerus muntah hebat, hingga makanan dimuntahkan dengan menyemprot atau menyembur (projectile vomiting).

  • Memuntahkan cairan hijau atau kuning.

  • Memuntahkan darah atau materi lain seperti bubuk kopi.

  • Menolak makan.

  • Ada darah pada feses atau tinja.

  • Susah bernafas atau batuk berkepanjangan

  • Mulai muntah pada usia 6 bulan atau lebih.

  • Sesudah makan menjadi rewel, di luar kebiasaan sebelumnya.

Beberapa tanda-tanda tersebut dapat mengarah pada kondisi yang mungkin lebih serius, tapi dapat diobati, seperti GERD atau sumbatan pada saluran cerna.

Diagnosis

1. Anamnesis

2. Pemeriksaan fisis

Bila bayi atau anak dalam kondisi sehat, tumbuh sesuai grafik pertumbuhan dan terlihat nyaman, maka TIDAK PERLU dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pada bayi sehat, kondisi muntah dan regurgitasi makanan tanpa usaha atau GER itu:

    • sangat umum terjadi (terjadi pada minimal 40% bayi)

    • biasanya mulai terjadi sebelum bayi berusia 8 minggu

    • dapat terjadi berulang (5% bayi yang mengalaminya dalam sehari akan mengalami 6 kali atau lebih)

    • biasanya akan makin berkurang frekuensinya seiring dengan waktu (kasusnya berhenti sebelum usia 1 tahun pada 90% bayi yang mengalami GER)

    • biasanya tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut ataupun terapi lainnya.

Jika ada kecurigaan terhadap GERD atau kecurigaan masalah lain (non GER), dokter mungkin akan mempertimbangkan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Ultrasound: digunakan untuk mendeteksi pyloric stenosis.

  • Pemeriksaan laboratorium: tes darah dan urin dapat membantu mengidetifikasi atau mencari kemungkinan penyebab munculnya muntah dan pertumbuhan yang kurang.

  • Pemeriksaan pH esofagus: untuk mengukur keasaman dalam esofagus, dokter akan memasukkan selang kecil ke esofagus melalui hidung atau mulut. Selang kecil ini terhubung dengan alat untuk mengukur keasaman. Untuk melakukan prosedur ini, anak atau bayi perlu rawat inap di rumah sakit agar dapat dipantau dengan seksama.

  • X-ray: dapat mendeteksi kondisi abnormal pada saluran pencernaan, sepertinya adanya obstruksi/sumbatan. Bayi atau anak akan diberi cairan kontras (barium) untuk diminum sebelum dilakukan pemeriksaan.

  • Endoskopi bagian atas. Selang khusus dengan lensa kamera dan lampu (endoskop) akan masuk melalui mulut ke dalam esofagus, lambung dan bagian depan usus halus. Saat prosedur ini dilakukan, bisa saja dilakukan pengambilan jaringan sampel untuk analisa lebih lanjut. Prosedur ini biasanya dilakukan dengan pembiusan umum pada bayi dan anak-anak.

Penanganan

GER biasanya menghilang dengan sendirinya. Sementara itu, disarankan untuk:

  • Memberi makan anak atau bayi dalam porsi kecil tapi sering.

  • Menghentikan pemberian makan beberapa saat untuk menyendawakan bayi.

  • Memegang bayi dalam posisi tegak atau berdiri selama 20-30 menit setelah pemberian makan.

  • Ibu berhenti makan dari produk-produk susu, sapi atau telur, kalau memberi ASI pada anak, untuk melihat apakah bayinya memiliki alergi terhadap makanan-makanan tersebut.

  • Jika bayi minum susu formula, ganti jenisnya.

  • Gunakan ukuran dot yang berbeda jika bayi menyusu menggunakan botol. Dot yang terlalu besar atau kecil akan menyebabkan bayi menelan udara.

Pemberian obat pada GER tidak direkomendasikan. Pemberian obat dapat menghambat penyerapan kalsium dan zat besi dan meningkatkan risiko infeksi usus dan pernafasan. (Syl)

Sumber:

1. https://pediatrics.aappublications.org/content/131/5/e1684.full

2. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infant-acid-reflux/symptoms-causes/syc-20351408

3. https://www.mayoclinicproceedings.org/article/S0025-6196(11)63650-1/fulltext

4. https://www.nice.org.uk/guidance/ng1/chapter/Introduction

Share artikel ini: