Dekongestan yang umum meliputi pseudoephedrine, phenylephrine, dan oxymetazoline. PPA (phenylpropanolamine) di Amerika Serikat merupakan dekongestan yang ditarik dari pasar karena hubungannya dengan kardiomiopati (kerusakan otot jantung) dan perdarahan otak, namun obat ini masih dimasukkan di banyak literatur. Dekongestan adalah agen simpatomimetik yang mengurangi hidung tersumbat dengan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Dekongestan memperbaiki jalan napas dengan mengurangi volume darah dan bengkak pada lapisan lender hidung dan sinus paranasal. Dekongestan terdapat baik dalam bentuk topikal (diberikan langsung pada tempatnya, dalam hal ini hidung) dan sistemik (beredar dalam pembuluh darah).  Dekongestan hidung bentuk topikal dapat menyebabkan sumbatan balik (rebound), yang terutama berbahaya pada bayi usia 6 bulan atau kurang yang sangat bergantung pada aliran udara hidung untuk pernapasan. Jika digunakan, obat ini sebaiknya diberikan tidak lebih dari 72 jam. Penggunaan dekongestan topikan terus-menerus dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa, suatu peradangan hidung kronik.

Pada sebuah penelitian, bayi berusia kurang dari 12 bulan yang mengalami infeksi respiratory syncytial virus diobati dengan 1/8% phenylephrine atau tetes hidung larutan garam normal. Tidak terdapat perbedaan pada skor pernapasan klinis setelah kedua pengobatan. Oxymetazoline telah terbukti mengurangi sumbatan hidung pada pria dewasa yang mengalami pilek. Ipratropium bromide merupakan suatu obat antikolinergik yang tersedia dalam bentuk semprotan hidung untuk mengurangi ingus. Suatu penelitian acak pada dewasa menunjukkan bahwa obat ini mengurangi ingus dan bersin pada 3 hari pertama pilek. Penggunaan dekongestan topikal pada anak bisa tidak praktis karena sulitnya pemberian baik dalam bentuk tetes hidung maupun semprot dengan cara yang memungkinkan agar obat mencapai sasaran yang diinginkan.

Kesimpulan.   Karena sulitnya mengontrol dosis dan resiko efek samping yang serius, dekongestan topikal sebaiknya tidak digunakan dalam penanganan selesma (common cold) pada bayi dan anak kecil.

Obat-obatan simpatomimetik yang diberikan secara oral

Simpatomimetik (obat yang menyerupai efek sistem saraf simpatis) oral, meliputi phenylephrine, pseudoephedrine, oxymethazoline, dan phenylpropanolamine menyebabkan penyempitan pembuluh darah sistemik, mengurangi volume darah yang mengalir ke lapisan lendir hidung. Pseudoephedrine adalah suatu stereoisomer dari ephedrine. Kerja pseudoephedrine mirip ephedrine, tetapi tampaknya memiliki efek lebih sedikit pada tekanan darah dan efek sistem saraf pusat lebih sedikit. Phenylephrine menghasilkan sedikit stimulasi saraf pusat, namun meningkatkan tekanan darah dan kadang digunakan sebagai pressor pada pembiusan. Phenypropanolamine bekerja secara tak langsung sebagai suatu simpatomimetik. Selain digunakan sebagai dekongestan, phenylepropanolamine merupakan bahan yang digunakan pada pil diet. Phenylpropanomaline secara struktur menyerupai amphetamine, suatu perangsang sistem saraf pusat yang ampuh.

Terdapat sebanyak enam penelitian acak terkontrol pada dewasa yang memenuhi kriteria kualitas. Sebanyak tiga dari penelitian tersebut  mengevaluasi dekongestan dengan plasebo, dua studi meneliti pseudoephedrine dan satu meneliti phenylpropanolamine. Obat-obat tersebut ditemukan efektif dalam meredakan gejala-gejala hidung. Sedangkan tiga penelitian lainnya mempelajari ephedrine atau pseudoephedrine dalam kombinasi dengan obat-obatan lainnya seperti antihistamin dan dextromethorphan. Ketiganya melaporkan pengurangan bermakna pada gejala-gejala hidung.

Hanya dua penelitian acak terkontrol pada anak yang ditemukan memenuhi control kualitas. Keduanya mengevaluasi sediaan kombinasi yang mengandung dekongestan phenylpropanolamine. Hasilnya bertentangan satu sama lain, dengan satu penelitian melaporkan adanya pengurangan gejala hidung yang signifikan sedangkan yang lainnya melaporkan tidak terdapat perbedaan dibandingkan dengan plasebo.

Efek samping obat-obatan simpatomimetik yang diberikan secara oral. Efek samping obat simpatomimetik terutama adalah efek stimulasi adrenergik. Gangguan psikis yang dilaporkan pada anak-anak setelah pemberian phenylpropanolamine meliputi rewel, gangguan tidur, halusinasi, agresif (khususnya pada anak kecil), dan kejang. Episode hipertensi berat telah dilaporkan setelah meminum phenylpropanolamine. Pseudoephedrine boleh jadi memiliki batas aman yang lebih tinggi daripada agen simpatomimetik lainnya. Pada suatu penelitian dari 81.965 resep pseudoephedrine pada anak usia di bawah 19 tahun, ditemukan hanya satu yang dirawat di rumah sakit (karena kejang) yang mungkin terkait penggunanan pseudoephedrine.

Kesimpulan. Obat simpatomimetik yang diberikan secara oral dapat meredakan dalam jangka pendek gejala hidung tersumbat pada beberapa orang dewasa. Karena terdapat kekhawatiran tentang efektivitas dan keamanannya pada anak kecil, penggunaannya tidak bisa dianjurkan. Jumlah penelitian acak terkontrol yang mengevaluasi efektivitas dekongestan oral pada anak-anak masih belum cukup. Penelitian yang ada melaporkan hasil yang bertentangan dan sulit dimengerti karena yang dievaluasi adalah kombinasi obat. (ve)

sumber: WHO, AAP

Share artikel ini: