Hidup di negara tropis seperti Indonesia, tentu bergelimpangan dengan sinar matahari bahkan saat musim hujan. Lazim diketahui, paparan sinar matahari diperlukan oleh tubuh untuk memproduksi vitamin D yang penting bagi tulang. Vitamin D disintesis dari kolesterol setelah terpapar sinar ultraviolet B dari matahari. Vitamin D juga ditemukan di makanan seperti ikan, telur, susu terfortifikasi, dan minyak hati ikan cod (seperti tuna, mackarel, dan sardines).

Vitamin D berperan dalam metabolisme dan absorbsi mineral tubuh dengan cara memfasilitasi metabolisme kalsium, fosfat, dan magnesium dan mineralisasi tulang, serta merangsang dinding usus halus untuk mengabsorbsi kalsium. Vitamin D yang rendah akan memicu pelepasan hormon paratiroid. Hormon paratiroid akan menyebabkan kalsium dari tulang keluar ke dalam darah. Bila dibiarkan, tulang pun akan keropos.

Ada dua bentuk vitamin D yang umum dikenal yaitu vitamin D2/ergocalciferol (dari tumbuhan) dan D3/cholecalciferol (terbentuk saat kulit tubuh terpapar sinar matahari). Paparan sinar matahari pada seluruh tubuh selama 10-15 menit akan menghasilkan 10.000-20.000 IU vitamin D3 pada dewasa kulit putih; dewasa kulit hitam memerlukan 5-10 kali lebih lama untuk mendapatkan jumlah vitamin D3 yang sama. Banyak faktor yang mempengaruhi produksi vitamin D3 antara lain jumlah pigmen kulit, massa tubuh, ketinggian permukaan tanah, musim, awan berawan, polusi air, jumlah kulit yang terpapar, dan proteksi sinar ultraviolet B (contoh: baju, sunblock).

Seperti dipaparkan di atas, sinar matahari berperan penting dalam produksi vitamin D (selain dari makanan). Negara Barat yang sinar mataharinya tidak tersedia sepanjang waktu tentu mempunyai masalah defisiensi vitamin D. Sebagai contoh, studi di Boston, Amerika Serikat pada 380 bayi dan anak (usia 8-24 bulan) menunjukkan sebanyak 40% subjek hanya memiliki kadar vitamin D ≤30 ng/mL dan 12,1% dikategorikan defisiensi vitamin D (≤20 ng/mL). Bayi/anak yang menyusu atau yang tidak cukup minum susu lebih berisiko mengalami defisiensi vitamin D. Sebanyak 32,5% dari subjek defisiensi vitamin D mengalami demineralisasi tulang dari gambaran Rontgen pergelangan tangan dan lutut.

Lalu, apakah negara tropis seperti Indonesia luput dari masalah defisiensi vitamin D? Ternyata, tidak! Studi Soesanti F dkk pada 120 anak sekolah dasar di Jakarta berusia 7-12 tahun menemukan sebanyak 75,8% subjek mengalami insufisiensi dan 15% defisiensi vitamin D. Kadar kalsium rendah pada 16,7% subjek. Tidak ditemukan hubungan antara vitamin D dengan lama paparan sinar matahari, obesitas, tonus kulit, cara berpakaian, pemakaian sunblock serta konsumsi susu.

Fakta lain, studi dari South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) di 48 kabupaten di Indonesia tahun 2011 pada anak usia 6 bulan-12 tahun menemukan 45% insufisiensi (kadar 25-OH vitamin D 25-49 nmol/L), 49,35 tidak cukup (50-74 nmol/L), dan 5,6% cukup (≥75 nmol/L). Tidak ada subjek yang masuk kategori defisiensi (<25 nmol/L). Dibandingkan 3 negara lain peserta studi SEANUTS, rerata kadar vitamin D subjek anak Indonesia paling rendah yaitu 52,7 nmol/L (Malaysia 55,2 nmol/L, Thailand 59,6 nmol/L, dan Vietnam 56,3 nmol/L).

Defisiensi vitamin D juga menjadi temuan masalah di India. Studi di New Delhi, India menemukan hipovitaminosis D mencapai 90%. Setiap tahun di divisi Endokrinologi, India Institute of Medical Science menemukan 25-30 kasus remaja dan dewasa dengan osteomalasia. Prevalens defisiensi vitamin D pada ibu hamil di India mencapai 84%.

Salah satu penyakit akibat defisiensi vitamin D adalah rickets. Pada rickets, terjadi hambatan pada lempeng pertumbuhan tulang. Kaki akan bengkok seperti huruf ‘O’, tulang dada menonjol seperti alat musik biola, dan penebalan pada tulang pergelangan tangan dan kaki, serta gangguan pertumbuhan gigi. Lebih lanjut, dapat terjadi kekakuan otot dan kejang. Studi di Minnesota, Amerika Serikat menemukan insidens rickets pada anak berusia <3 tahun meningkat menjadi 24,1 per 100.000 selama tahun 2000-2009 dibandingkan dengan dekade sebelumnya (1970-1980: 0 kasus, 1980-1990: 2,2 kasus, 1990-2000: 3,7 kasus per 100.000).

Melihat fakta bahwa defisiensi vitamin D menjadi masalah baik di negara subtropis maupun tropis, American Academy of Pediatrics telah mengeluarkan rekomendasi suplementasi vitamin D pada bayi yang mendapat ASI eksklusif maupun tidak sejak usia beberapa hari kelahiran. Sayangnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia belum mempunyai rekomendasi terkait hal itu.

Referensi:

Armstrong C. Am Fam Physician. 2009;80:196-8.

Gordon CM dkk. Arch Pediatr Adolesc Med. 2008;162:505–12.

Sandjaja S dkk. Br J Nutr. 2013;110:S11–20.

Soesanti F dkk. Int J Pediatr Endrocinol. 2013;2013(Suppl 1):P167.

Goswami R dkk. Indian J Med Res. 2008;127: 229-38.

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rickets/basics/definition/con-20027091

Thacher TD, dkk. Mayo Clinic Proceedings. 2013;88:176-83.

Share artikel ini: