Dear all,

Selamat pagi.

Apa kabar?

Setiap praktek, selalu saja ada kasus bapil dan kasus demam. Sebetulnya, ini penyakit ringan sehari hari yang kerap dialami balita.

Tidak sedikit orangtua yang datang menginginkan agar dilakukan pemeriksaan lab terhadap anaknya yang demam.

Biar tenang, ujar si ibu. 

Tidak sedikit pula yang tidak tahu mengapa harus cek lab, tidak paham apa yang akan dibidik.

“Bu, kenapa cek lab?”

“Kan demamnya sudah 3 hari dok”

Atau

“Mau lihat infeksi bakteri atau virus”

Atau

“Takut DBD dok”

Nah, jawaban-jawaban di atas menunjukkan bahwa orang tua tidak paham indikasi kapan harus cek lab kapan tidak perlu. Sehingga, tidak sedikit pemeriksaan lab yang sebetulnya tidak perlu (overtreatment).

Padahal, untuk penyakit langganan anak di atas umumnya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lab. Kecuali,

1. Ada tanda-tanda kegawatdaruratan (sesak napas, dehidrasi berat, penurunan kesadaran, kejang kama dan berulang).

2. Demam sudah lebih dari 72 jam tetapi tidak ada tanda-tanda ISPA (bumpet, pilek, batuk), tidak ada tanda-tanda diare dan/atau muntah.

3. Anak besar dengan demam tinggi mendadak, tidak ada batuk pilek dan klinis dicurigai infeksi Dengue.

4. Ada kecurigaan terhadap ISK. Misal, ada keluhan saat berkemih.

Dengan demikian, demam 72 jam tidak otomatis harus cek lab. Tidak otomatis harus cek Dengue.

Pijakan utk menentukan perlu tidaknya pemeriksaan lab adalah, adanya kecurigaan klinis terhadap suatu penyakit yang memang butuh pemeriksaan lab.

Oleh karena itu, saat dinyatakan butuh cek lab, tanyakan kepada nakes (tenaga kesehatan), apa dugaan diagnosisnya. Apa penyakit yang akan dibidik melalui peneriksaan lab tersebut.

Selebihnya bisa dibaca di web terkait pemeriksaan lab.

Salam cerdas,

Wati

Share artikel ini: