Dear all,

Selamat pagi.

Apa kabar? Semoga di cuaca terik ini, semua sehat.

Terkait DEMAM, baik itu di ruang praktek maupun di saat ngobrol, atau saat ceramah edukasi kesehatan, SELALU saja ungkapan 3 x 24 jam dilontarkan para orang tua.

Maksudnya?

W: “Ketika anak demam, panik kah, Bu?”

Ibu : “Iya, Dok. Kalau sudah 3 x 24 jam saya ke dokter. Cek lab (laboratorium).”

Kira-kira intinya begitu. Saat anak demam, 3 hari, tancap gas. Ke RS.

Benarkah demam tidak boleh lebih dari 3 x 24 jam?

Tidak benar.

Pertama:

Demam = perlawanan tubuh kita terhadap infeksi.

Artinya: selama infeksinya masih ada, harus demam!

Yang penting:

1. Pantau tanda-tanda kegawatdaruratan

2. Cegah dehidrasi

Kedua:

1. Amati tanda-tanda yang akan membimbing kita kepada penyebab infeksinya

Misal:

Kalau ada diare (+/- muntah), maka sangat mungkin penyebabnya: infeksi virus di saluran cerna.

Kalau ada bumpet/buntu (+/- bapil), maka kemungkinan besar penyebabnya virus di saluran napas atas.

2. Pegangan utama diagnosis: BUKAN PEMERIKSAAN LAB!

Melainkan ketajaman klinis saat mengumpulkan informasi (anamnesis/history taking) dan pemeriksaan fisik (dilihat, diraba, diketuk, didengar/auskultasi).

Jadi, kapan ke dokter kalau demam?

1. Kalau ada gawat darurat.

2. Kalau 3 x 24 jam tidak ada clues penyebab infeksinya (tidak bumpet, tidak meler, tidak muntah, tidak diare, dan seterusnya)

Dengan catatan, kalaupun ke dokter, belum tentu butuh pemeriksaan lab.

Kapan butuh pemeriksaan lab?

Tunggu seri berikutnya.

Salam

Wati

Share artikel ini: