Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Senang bisa berjumpa dengan kalian meski sekedar di dunia maya. Mari kita panjatkan puji syukur atas semua nikmat yang telah Ia berikan kepada kita semua.

Mari berdoa agar kita semua senantiasa dalam lindunganNya.

Agar kita semua berhasil melampaui masa-masa sulit ini. Bahu membahu dan bergandengan tangan.

Agar Indonesia tetap kuat.

Semakin kuat.

Orang bilang, ada nikmat di balik sengsara. Tuhan bilang, di balik setiap kesulitan, ada kemudahan.

CAPING kali ini lebih banyak chit chat tanda kangen. Tapi kok judulnya, membuka kotak pandora? Apa saja?

ASPEK SOSIAL

Pertama, kita mendekat dan menjadi lebih DEKAT kepada Sang Pencipta.

Rumah kita menjadi rumah Tuhan. Suasana agamis menjadi lebih kental.

Bagi yang muslim, banyak yang belajar bersama secara online.

Demikian juga halnya dengan penganut agama lainnya. Tuhan hadir di setiap rumah.

Kedua, kita semakin disadarkan akan pentingnya KELUARGA.

Semua berkumpul, bergurau, belajar bareng, makan bareng. Olahraga pagi bareng. Nikmat yang luar biasa.

Ketiga, kita menjadi lebih sadar akan makna lingkungan sekitar. Rasa gotong royong, rasa kemanusiaan menjadi lebih tebal. Membantu sesama. Bukankah itu yang diinginkanNya dari kita sebagai salah satu wujud syukur kepadaNya?

SOLIDARITAS SOSIAL menguat. Alhamdulillaah.

Keempat, kita semakin menghargai makna sehat. Semakin menghargai kesehatan sebagai salah satu karuniaNya yang luar biasa.

Kelima, kemajuan IT.

Kemajuan teknologi sangat membantu.

Manusia bisa tetap berinteraksi, tetap belajar, tetap bekerja meski tidak tatap muka langsung.

COVID-19 membuka mata kita untuk mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara cerdas dan bijak.

Keenam, KREATIVITAS BERMUNCULAN.

Di masa sulit seperti ini, insting survival menguat. Kreativitas yang muncul diharapkan bisa punya nilai niaga sehingga membantu financial survival keluarga. Ayo, gali terus.

ASPEK MEDIS

COVID-19 membuka banyak sisi medis yang selama ini dianggap sebelah mata.

Dari sisi PREVENTIF

Pertama, kita semakin menyadari pentingnya HIGIENE, menjaga kebersihan (kebersihan diri, keluarga, lingkungan, bangsa).

Dulu, mengajarkan cuci tangan yang benar, banyak yang meremehkan.

Kedua, pola MAKAN SEHAT. 

Dulu, kalau bicara pentingnya pola makan yang baik, dianggap bukan topik sexy. Tidak menarik. Sekarang? Semua menjadi lebih sadar. Buah dan sayur ada di meja setiap hari. Makanan buatan rumah, laku keras dan jajan jauh jauh berkurang. Alhamdulillaah.

Ketiga, IMUNISASI. Dulu orang tak anggap ini sebagai isu maha penting (bahkan ada yang membentuk gerakan anti imunisasi).

Sekarang? Orang menunggu harap-harap cemas ditemukannya vaksin anti COVID-19.

Sekarang, kita paham nilai luhur imunisasi. Betapa penemuan suatu vaksin merupakan upaya luar biasa. Kerja keras jangka panjang, dengan biaya yang luar biasa mahal. Kita sekarang semakin menyadari bahwa imunisasi adalah suatu upaya kemanusiaan.

Keempat, pemakaian MASKER.

Dulu, sangat sulit meminta kesadaran agar yang sakit batuk pilek, memakai masker. Terkesan sangat selfish, bersin dan batuk jenggrong, santai saja. Seolah tidak peduli sekitarnya bakal terinfeksi yang sama.

Sampai-sampai saya menulis CAPING khusus untuk masalah masker ini (http://milissehatyop.org/)

COVID-19 memaksa kita untuk menggunakan masker ketika sakit atau ketika ada potensi menulari orang lain.

COVID-19 menyadarkan kita, bahwa menjaga kesehatan merupakan upaya amal yang buahnya bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk masyarakat luas dan negara.

Terkait COVID-19….

Menjaga diri dengan stay at home, kita membantu diri kita, keluarga kita, tenaga medis kita, negara kita dan bumi kita.

Dari sisi KURATIF

COVID-19 membuka kotak pandora bahwa pasien itu harus cerdas dan bijak.

Pertama, COVID-19 telah memaksa kita pentingnya mempraktekkan konsep OBSERVASI/PEMANTAUAN.

Dulu, kalau dinyatakan bahwa observasi itu juga merupakan bagian dari treatment, dikepret lah kami (hehehe maaf ya).

Tidak bisa senantiasa berlindung di balik klausul,

“Abis panik”

“Biar tenang, ke RS saja”

Sekarang, ada uangpun bukan berarti otomatis bisa ringan langkah ke faskes (fasilitas kesehatan -red).

Sakit ringan? Di rumah saja!

Kedua, Tanda KEGAWAT DARURATAN.

COVID-19 memaksa kita untuk mempelajari tanda-tanda kegawat daruratan.

Pegangan penting untuk pengambilan keputusan.

Semisal ada pasien yang ternyata positif COVID-19 sekalipun, bila tidak ada kegawat daruratan, stay at home. Isolasi ketat.

Ketiga, KELUHAN, GEJALA.

Dulu, kita sibuk membom setiap keluhan dan gejala yang tengah dialami.

Demam harus lenyap seketika.

Batuk harus reda sekejap.

Diare harus mampet secepatnya.

Baca: http://milissehatyop.

Sekarang kita lebih arif. Gejala dan keluhan bukan musuh yang harus di-bom membabi buta.

Keluhan dan gejala justru menuntun kita ke arah diagnosis.

Keempat, DIAGNOSIS

Dulu, kita ke dokter untuk minta obat. Gak penting apa penyebabnya. Yang penting “sembuh”.

Ketika kriteria sembuhnya pun rancu. Keluhan hilang dulu, dianggap sembuh.

Sekarang, kita lebih paham pentingnya mencari akar permasalahan.

Jangan sampai, demam, dianggap gejala tifus. Ternyata, COVID-19.

Sekarang semakin kita menyadari bahwa kunjungan ke dokter adalah untuk berkonsultasi. Mencari penyebab.

Sekarang kita paham, ketika selesai berkonsultasi dengan dokter, kita HARUS mengantongi diagnosis atau dugaan diagnosis.

Jangaan sampai, tidak ada diagnosis medis, yang ada secarik resep obat.

Kelima, KEKUATAN STATISTIK EPIDEMIOLOGI.

Dulu, salah satu dalih yang dikemukakan adalah

“Bagaimana tahunya infeksinya virus?”

Atau

“Yakin ini virus? Kalau harus dibuktikan, sulit, mahal, lama”

Dan seterusnya, dan seterusnya.

COVID-19 mengajarkan kita pentingnya peran epidemiologi klinis. Peran biostatistik.

Batuk pilek misalnya, sudah jelas penyebabnya virus. Tidak usah lagi digoyahkan seolah karena tidak bisa membuktikan lalu “aman” nya, tembak antibiotik! COVID-19 mengajarkan kita untuk lebih bijak dan cerdas.

Dari sisi TERAPI/TATALAKSANA.

Pertama, Terapi tidak harus obat!

Dulu, ketika jatuh sakit, kita menganggapnya, solusinya HARUS obat.

COVID-19 mengajarkan kita bahwa semua penyakit, ada panduan tatalaksananya.

Bahwa tidak semua penyakit, solusinya, obat.

Bahwa infeksi virus, tidak ada obatnya.

Kedua, OBAT CESPLENG.

Kita punya kebiasaan, mencari obat yang bagus. Kriteria obat bagus itu apa? CESPLENG.

tidak peduli apakah ada risiko efek samping atau tidak.

Dulu, anak demam, kasih parasetamol, tetap demam, lalu selang seling dengan IBUPROFEN.

COVID-19 menunjukkan, jangan makan golongan obat NSAIDs (salah satunya, ya, ibuprofen tadi) karena disinyalir, bisa memperberat gejala.

Ketiga, SERBUAN berita hoax.

Dulu, testimoni kita anggap sebagai panduan terapi.

Dulu, katanya pakai X, lutut saya mendingan.

Sekarang, kita harus lebih bijak.

Berita hoax atau pseudoscience bertebaran. Bijaklah.

Bahwa untuk sehat butuh vit C dan vit E, ya makan saja buah dan sayur warna warni. Jangan serbu toko obat, mencari suplemen high dose.

Waah panjang ocehan saya ya

Maaf

Kangen juga sih

Mari kita saling mendoakan.

Mari kita memohon agar Ia membuka mata hati kita agar mampu menarik dan mampu belajar dari pandemi ini.

Stay safe.

Stay healthy.

Wati

UBUNTU

I am what you are

Share artikel ini: