Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Pandemi COVID-19 telah memporak porandakan keseharian kita.

Kita sedang diuji. Mungkin selama ini, tanpa sengaja, kita terlalu “sombong”. Namun demikian, kata orang bijak, ujian, bisa membawa NIKMAT; tentunya bagi mereka yang mau merenung dan mengambil pelajaran.

Apa nikmat yang bisa kita peroleh dari pandemi COVID-19 ini?

Nikmat rohani dan nikmat badani.

Maksudnya nikmat rohani?

Kita menjadi lebih dekat kepadaNya. Lebih banyak berdoa sambil terus mengucap syukur atas karuniaNya yang maha luas.

Kita yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, sekarang punya waktu untuk duduk dan ngobrol santai dengan keluarga di rumah.

Kita jadi punya waktu. Ya WAKTU! Barang “mewah” yang langka didapat di kota-kota besar atas nama tuntutan hidup.

Lantas, apa nikmat badani dari wabah ini?

Kita DIPAKSA BELAJAR.

Belajar apa? Banyak hal. Misalnya,

Belajar bijak dengan pengaturan pengeluaran.

Belajar bijak mengatur agenda kegiatan bagi semua anggota keluarga agar mental tetap sehat, semua tetap ceria dan bahagia. Agenda yang lebih indah ketimbang sekedar memeluk gadget.

Apa NIKMAT terkait aspek kesehatan?

Sekali lagi, COVID-19 telah memaksa kita untuk belajar! Belajar menjadi konsumen kesehatan yang bijak (karena kita dipaksa menjadi lebih cerdas).

Misalnya?

1. RUMAH SAKIT.

Sejak 2003 kami melakukan kegiatan edukasi untuk masyarakat awam, sulit sekali menanamkan pemahaman bahwa, “Hospital is NOT a playground”

Orangtua selalu saja berlindung dibalik berbagai alasan yang jauh dari ilmiah.

Misalnya, saya panik. Atau, neneknya yang maksa ke RS. Atau, takut ada apa-apa.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

UGD pun dipadati oleh pasien-pasien yang tidak emergency. Demam 3 hari, demam gak mau turun, batuk sudah lama, muntah 3x, dan seterusnya, dan seterusnya.

Sulit sekali memberikan pemahaman perihal penguasaan tanda gawat darurat (masih ingat kan ya, pada anak, hanya ada 4 lho).

Sekarang, COVID-19 memaksa kita. Mereka yang sakit ringan, tidak lagi bisa ringan langkah ke RS/klinik.

Sakit ringan, STAY AT HOME dan observasi.

Rumah sakit, HANYA untuk yang sakit berat.

2. IMUNISASI

Sejak tahun 2003, kami mensosialisasikan pentingnya SIMULTANEOUS IMMUNIZATION.

Di lapangan, sebagian besar imunisasi diberikan TIDAK simultan. Banyak alasan yang dikemukakan, alasan tanpa dasar ilmiah. Imunisasi pun dipilah-pilah. Kerennya, dicicil!

Orang tua pun memilih tidak ambil pusing, tautan yang ilmiah mis dari cdc.gov, tidak dilirik (apalagi dibaca). Hasilnya?

Imunisasi si anak, tidak tepat waktu. Nah saat wabah covid-19, banyak faskes (fasilitas kesehatan -red) yang mengurangi pelayanan rawat jalan. Alhasil, imunisasipun jadi semakin kacau balau.

COVID-19 memaksa kita untuk belajar betapa pentingnya imunisasi SIMULTAN!

3. TERAPI

Sejak 2003, YOP mensosialisasikan bahwa terapi BUKAN berarti harus obat. Orang tua tidak berusaha memahami bahwa terapi itu, ada 5 bentuk (masih ingat kan ya); obat hanya salah satu bentuk terapi.

Alhasil, masih banyak orangtua yang berusaha meyakinkan dokter bahwa anaknya menderita karena batuk; bahwa harus ada obat yang diberikan. Padahal, di setiap kesempatan, kami mensosialisasikan bahwa, batuk BUKAN penyakit, BUKAN MUSUH.

Bahwa batuk justru refleks proteksi bagi paru-paru. Selama banyak dahak, pasti batuk.

Oleh karena itu, obat batuk itu, TIDAK ADA!

Alih-alih dipelajari, kebanyakan orangtua tetap memilih obat.

Alhasil …

Demi menyenangkan, resep pun dibuat, isinya obat alergi dan obat asma dan lain sebagainya yang tidak dibutuhkan si anak.

Alhasil … anak batuk pun di “nebul” … diuap kalau kata sebagian orang.

Saat covid-19 ini, beberapa RS sudah meniadakan terapi nebuliser. Mengapa?

Terapi nebuliser tergolong tindakan yang aerosol generating. Penelitian membuktikan, mudahnya virus corona menyebar melalui aerosol.

Jadi?

COVID-19 memaksa kita belajar, batuk pilek TIDAK butuh nebulisasi!

4. DIAGNOSIS.

Masih banyak orangtua yang memilih resep (baca = obat) ketimbang diagnosis.

Padahal, kami senantiasa mensosialisasikan bahwa kunjungan ke dokter adalah konsultasi, diskusi, untuk mencari akar permasalahan. Penyebab permasalahan inilah yang akan membimbing kita ke arah diagnosis.

Jangan dibalik. Yang penting, bom dulu semua gejala yg muncul. Yang penting, demam harus lenyap, batuk harus berhenti, diare harus mampet.

Jadi?

Wabah COVID-19 memaksa kita untuk belajar betapa pentingnya penelusuran penyebab gejala. Betapa pentingnya penegakkan diagnosis. Agar kita tidak tersesat.

Oleh karena itu, COVID-19 bukan siksa, melainkan, UJIan.

Dan … ujian ini ternyata membawa banyak nikmat. Antara lain, nikmat yang dikemukakan di atas.

Last but not least

Perjalanan masih panjang. Kita harus menjaga stamina ausdaeur/endurance alias stamina yang hebat.

Jangan biarkan nakes (tenaga kesehatan -red) dan faskes kehabisan stamina.

Jadilah pasien bijak karena cerdas.

Salam

Wati

Bersatu mengatasi COVID-19

Share artikel ini: