Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua sehat dan berbahagia.

Semoga wabah COVID-19 segera sirna dari muka bumi. Aamiin.

Seiring waktu, satu persatu negara, terserang. Seiring waktu, penderita (terbukti positif) juga terus bertambah. Dan akhirnya, beberapa hari yang lalu, WHO men-declare bahwa statusnya saat ini adalah PANDEMI.

Muncul kepanikan (di sebagian masyarakat). Sampai batas tertentu, kepanikan tersebut bisa dipahami, sangat manusiawi. Apalagi banyak sekali yang dunia kedokteran belum ketahui terkait virus corona varian baru ini.

Misalnya, bagaimana jika ibu hamil dan ibu menyusui, positif COVID-19? Apa risiko untuk janinnya? Bagaimana dengan proses menyusui? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Celakanya, tidak sedikit pula yang bersikap “bussiness as usual“, seolah tidak ada masalah serius yang tengah dialami umat Tuhan di berbagai belahan bumi ini. Entah apa yang ada di benak kelompok ini.

Di lain pihak, tidak sedikit pula yang lugu dan benar-benar tidak paham. Saya menyempatkan perlahan-lahan bercerita tentang COVID-19 ke asisten di rumah. Sedikit demi sedikit pemahamannya meningkat. Saya minta dia untuk berbagi pengetahuan dengan keluarganya di kampung.

“Bu, mbakyu saya tanya, emangnya sakit corona itu kayak apa? Saya terangin gejalanya, Bu. Di kampung pada gak tau, Bu.”

Oleh karena itu, kita semua harus memiliki pemahaman yang benar dari kejadian ini. Kita juga harus mampu menarik pelajaran dari bencana ini. Sehingga kita bisa menjadi lebih kuat, fisik dan mental and be wiser with time.

WHAT DOES IT MEAN?

Pandemic

A pandemic is a disease that is spreading in multiple countries around the world at the same time.

Saat ini lebih dari separuh negara di muka bumi ini yang sudah diserang. Semakin memperkuat bukti bahwa penyakit infeksi ini berdaya tular tinggi.

APA MAKNA & KONSEKUENSI DEKLARASI PANDEMIC?

WHO’s pandemic declaration, which signals to the world that continued spread is likely, and that countries should prepare for the possibility of widespread community transmission.

Banyak negara akan terserang dan semua negara harus siap menghadapi bencana. Bencana? Ya, ketika terjadi penularan di komunitas artinya, gelombang korban amat sangat besar. Terlebih untuk negara dengan penduduk yang sangat padat, sebagaimana halnya Indonesia.

Bagaimana kalau semua Rumah Sakit overwhelmed; sudah tidak mampu menampung lonjakan pasien?

Oleh karena itu, deklarasi pandemi ini juga merupakan a call for action and a plea for all countries not to give up!

SERUAN KUAT sekaligus suatu PERMOHONAN penuh keprihatinan agar semua bahu membahu pantang menyerah, ACTION!

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Ini saat dimana segenap bangsa Indonesia harus bersatu. Bahu membahu, memotong rantai transmisi (rantai penularan).

Pandemic declaration may also inform travel policy, and prompt cities and countries to flesh out plans for quarantines and possible disruptions to public events.

Status pandemi menyangkut kebijakan terkait perjalanan bepergian (travelling), terkait strategi suatu kota dan negara perihal karantina serta pelarangan kegiatan publik yang melibatkan banyak orang.

Ya!

Pandemi harus diikuti dengan kebijakan multi sektor (holistik) berdasar kegawat daruratan tingkat tinggi. Tujuan intinya, memotong rantai transmisi.

APA UPAYA KITA MEMOTONG RANTAI TRANSMISI?

Social responsibility. Sederhananya, berusahalah agar tetap sehat, TIDAK SAKIT.

Bagaimana caranya?

1. Personal hygiene (cuci tangan dll), hindari kontak erat mis jabat tangan, cipiki cipiku, salim dll.

2. Hidup sehat (fruit & vegie; free air & sunshine), olah raga teratur di udara luar.

3. Self isolation

Stay at home as much as possible.

SELF ISOLATION

Dengan upaya ini, kita bukan saja melindungi diri kita, melainkan kita juga melindungi keluarga kita dan pada akhirnya, jika semua melakukannya dengan sebaik-baiknya, akan melindungi lingkungan dan masyarakat dalam skala yang lebih besar.

Bagaimana caranya? Apakah stay at home cukup?

1. Semua yang berusia di atas 50 tahun, harus tinggal di rumah. Minimal kontak dengan orang (tidak menerima tamu dan tidak bertamu)

2. Yang belum manula, sehat, juga stay at home.

3. Hindari orang banyak. Tidak keluar rumah kecuali sangat penting.

Self isolation adalah bukti kepedulian kita kepada lingkungan dan kepada masyarakat. Lakukan itu willingly and voluntarily; avoid crowd, minimize travelling.

Pada akhirnya,

Self isolation merupakan upaya untuk build a stronger defence di skala komunitas (skala yang lebih besar).

Jadi, salah satu pelajaran penting dari pandemi COVID-19 ini (IMHO – in my humble opinion) adalah to prove that you do CARE for others.

Bismillaah

Semoga kita semua, NKRI, dan segenap penghuni bumi, dalam lindunganNya. Aamiin

Salam sehat dan semangat

Wati

It’s a call to action and a plea for all countries not to give up, no matter how large the number of cases

Share artikel ini: