Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

KASUS, 14 BULAN, GIZI KURANG.

Berdasarkan anamnesis, saya mengidentifikasi beberapa masalah dan saya tulis di rekam medis, sebagai berikut:

Tidak perah ASI

Berat badan (BB) seret sejak usia 3 bulan

Tidak dapat zat besi usia 4 sampai dengan 6 bulan.

MPASI 2 minggu lancar, habis itu susah banget.

Sekarang diemut.

Sudah ke DSA Gizi dan sudah ke DSA Gastro.

Sudah diusahakan asupan tinggi kalori. Setelah beberapa kali kunjungan, dinyatakan bahwa si anak, trauma makan.

Artinya, masalahnya bersifat psikologis ( tidak ada kelainan organik).

Karena BB tidak naik juga;

Usia 10 bulan dibawa ke nakes (tenaga kesehatan -red) picky eaters. Dinyatakan alergi. Pantangan seabrek (banyak -red).

Ibu stress (makan apa dong anakku?)

3 minggu yang lalu muntah-muntah. Ke DSA Gastro kedua. Dimarahin. Dikasih obat (kandungannya lansoprazole). Kalau sebulan belum naik BBnya, endoskopi. Pasti lambungnya penuh erosi.

Ibu tambah bingung. Dicoba makanan instan, anak hanya mau beberapa suap.

Sekarang?

Sudah tidak muntah. Sudah mulai mau makan, tetapi BB belum naik. Jadi, ibu takut, ada masalah kesehatan yang sifatnya organik.

Saat pemeriksaan fisik:

– laju pertumbuhan tinggi badan masih baik (tidak short stature, tidak stunting).

– status kognitif baik; status emosi, peka dan halus.

– tidak ditemukan kelainan organ.

BEDAH KASUS:

1. LAJU PERTUMBUHAN MELAMBAT SEJAK USIA 3 BULAN.

Berarti masalah terletak di manajemen laktasi nya. Bukan karena ada suatu penyakit.

Ketika bayi nenen sering, lama, tetapi BB tidak naik, kita harus curiga, asupan ASI nya tidak memenuhi kebutuhan si bayi.

Pada sikon (situasi dan kondisi -red) seperti ini, ibu harus jernih mengevaluasi kecukupan ASI.

Perahlah ASI-nya sesering mungkin. Nenen paling lama 15 menit, sambung dengan top up.

Lesson learned:

A. Perahlah ASI secara teratur (setiap 1,5 atau 2 jam) sejak awal (misal hari ke-2 setelah melahirkan).

B. Top up.

Bantu bayi. Jangan biarkan bayi ngempeng.

2. AWAL MPASI LANCAR. SETELAH 2 MINGGU, TUTUP MULUT.

Apa maknanya? Bayi tidak menyukai menu MPASI-nya. Bayinya tidak ada masalah secara fisik.

Lesson learned:

A. Bayi kan manusia seperti kita, hargailah kebutuhannya akan santapan yang enak.

Bukan rawon, gado-gado, ikan gurame, diaduk jadi satu lalu dihaluskan.

Rasa dan tampilan campur aduk, kacau.

B. Monotoon.

Menu seharian sama.

Menu dari hari ke hari juga kurang lebih monoton dan ketebak. Nasi tim 3x sehari, boring banget ya. Bete.

Buatlah variasi.

Bikin anak excited saat didudukkan di kursi makan.

3. SETELAH MPASI, LAJU PERTUMBUHAN SEMAKIN BURUK.

Artinya, kebutuhan nutrisinya TIDAK tercukupi!

Sedih ya.

Lesson learned:

A. Jangan kebanyakan nasi.

Mangkok MPASI bayi indonesia, didominasi nasi.

B. Jangan setiap hari nasi. Nasi sebakul gak bikin anak sehat-pinter-bahagia.

Ketemu sebulan sekali, ya gak papa kok. Mengapa harus setiap kali, 3x sehari?

C. Jangan terlalu mudah memvonis anak menderita alergi makanan.

Alergi makanan itu, jaraaaang.

Makin banyak pantangan, pertumbuhan makin buruk, anak makin ringkih.

4. “DI OBOK-OBOK”

Keliling dari satu dokter ke dokter lain.

Dijejali puyer yang isinya, tidak dia butuhkan.

Dicekoki susu kalori tinggi padahal anak mual.

Disuapi makanan instan yang katanya the best ketimbang masakan rumah karena sudah difortifikasi.

Lesson learned:

Ketika bayi tidak tumbuh sebagaimana mestinya, jangan cari kambing hitam!

Penyebabnya di depan mata kalau kita mau berpikir jernih dan jujur.

ASI-nya kurang

Dan atau

MPASI-nya keliru dan gak enak.

KESIMPULAN:

Kembalikan rasa trust si anak. Trust bahwa, meal time is fun.

Meal time is a happy time.

Ciptakan suasana dan pengalaman menyenangkan terkait makanan sehingga ia percaya bahwa makan itu nikmat. Sehingga ia lebih menghargai makanan.

Solusi picky eater, BUKAN di klinik/RS.

Solusi picky eater terletak di DAPUR. Di tengah kehangatan keluarga.

Bon appetite

Wati

Share artikel ini: