Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Drama, dilihat dari kacamata positif, merupakan salah satu unsur yang membuat hidup menjadi menarik. Colorful. Dynamic. Tanpa drama, hidup mungkin jadi monotoon, boring.

Kehidupan pasangan suami istri, juga diwarnai drama, khususnya terkait peran mereka sebagai orang tua.

Sebut deh, ada morning riots. Pagi nan gedabrutan. Sore ditelpon, mesti beli bahan hijau dan ke-emasan buat prakarya. Kerjaan belum bisa ditinggal. Seruuuuu deh.

Saat anak masih bayi, drama anak sakit, gak mau makan, bb (berat badan)nya drop, dan seterusnya, dan seterusnya. Rasanya baru sembuh, kok sudah sakit lagi.

Mas (kakak)nya malam tidur gelisah. Kata mbak, demam juga. Lehernya bengkak.

Ah kan banyakan sehatnya ketimbang sakit. Saat anak-anak sehat, laut tenang menghanyutkan dong.

Tapi tidak 100%bebas drama kok. Misalnya ….

Drama menyapih dari dot (usia 10 bulan). Sakauuu 4 sampai dengan 5 hari. Setiap mau tidur, ngamuuk.

Berkat konsistensi meski hati babak belur.

Usia 1 tahun. Horeee mulai merasa “GEDE” lantaran sudah bisa jalan. Titah baginda yang harus berlaku. Tantrum. Rebellious (membangkang); mulai dari GTM (gerakan tutup mulut -red) sampai dengan gak mau mandi. Pakai baju, drama; mau tidur, drama. Dan seterusnya, dan seterusnya. Seruuu

Naah, usia 1 tahun, mulai mengatur per-NENEN-an. Tidak nenen (menyusu -red) selain 1x mau tidur siang (padahal, anak dari working mom, kalau weekend kan super tingkahnya). No nenen saat pergi, saat bertamu atau ada tamu. Nenen malam hanya 2x; 1x pas mau bobo (tidur) dan 1x laginya tengah malam.

Drama? Iyalah. Dan tidak sedikit ibu yang ikut drama (lubuk hati, belum ikhlas anak tidak nenen lagi).

Padahal, saat satu pihak ber-drama (si bayi), pihak lainnya (ayah ibu) harus “cool“, tenang tetapi KONSISTEN.

Ibu yang belum ridho melepas anaknya dari nenen, justru potensial memperberat sikon situasi dan kondisi).

Alhasil, banyak bayi di atas usia 1 tahun, nenen nya masih kayak di bawah usia 3 bulan, SERIING NENEN, siang dan malam. Naah, jangan heran kalau growth si anak jadi melambat.

Jadi orangtua memang kompleks. Ada kecenderungan untuk protektif (bahkan kadang over?). Lupa “dalil” busur dan anak panah Khalil Gibran.

Jadi, be appropriate.

Kehidupan mengharuskan bertahap melepas anak. Terbang, mandiri, dan percaya diri.

Jadi?

Menyapih adalah salah satu proses “melepas” anak. Tidak ada rumus baku perihal “how” nya. Setiap rumah, bisa buat rules dan bisa atur proses yang gentle tetapi firm.

Wati

Share artikel ini: