Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang memiliki mindset bahwa: (1)

SAKIT = SOLUSInya harus obat.

Atau dengan perkataan lain, banyak orang Indonesia yang menganggap bahwa (2)

TERAPI = OBAT.

Di lain pihak, sebagian besar masyarakat tidak paham bahwa:

(1) suatu obat, HANYA bisa dianggap sebagai obat, jika disertai informasi yang valid, obyektif.

(2) pasien punya hak untuk memperoleh informasi tersebut sebelum memutuskan untuk menebus dan mengonsumsinya.

Entah sejak kapan dan mengapa – masyarakat Indonesia memiliki mind set seperti itu.

Coba kita cermati contoh kasus di bawah ini.

KASUS 1.

Seorang ayah membawa anak laki-lakinya (usia 12 tahun) yang dirujuk ke saya.

A: Kami dirujuk ke dokter karena Hepatitis A dan SGOT SGPTnya tinggi banget.

Padahal sudah 5 hari makan obat.

W: Obat apa?

A: (menyebutkan nama dagang). Obat buat nurunin SGOT SGPT, Dok.

Catatan: ayah tidak tahu isi/kandungan aktif obat, tidak tahu mekanisme kerjanya.

Selain itu, pemahaman keluarga akan penyakitnya, juga minim.

KASUS 2.

I: Dok, anak saya bapil (batuk pilek)nya lama banget. Saya takut kenapa-kenapa.

Minggu kemarin sudah ke dokter, sudah minum obat batuk pilek, tapi gak ngaruh.

W: Obat apa, Bu? Kandungan aktifnya apa?

I: Puyer, Dok.

W: Bisa saya lihat copy resepnya, Bu?

I: Ooh, gak punya copy resepnya, Dok.

BEDAH KASUS:

HEPATITIS A:

Penyebabnya: virus Hepatitis A

Penularannya: melalui makanan dan minuman yang tercemar.

Tatalaksana:

1. Sembuh dengan sendirinya.

Tidak ada obat yang bisa membunuh virus ini.

Tidak ada obat yang bisa menurunkan kadar SGOT dan SGPT.

2. Observasi kemungkinan munculnya komplikasi.

3. Jaga kebersihan. Cegah penularan.

4. Istirahat.

5. Jangan lupa bagi yang belum, imunisasilah dengan vaksin Hepatitis A.

COMMON COLD:

Penyebabnya virus. Sembuh dengan sendirinya.

Tidak ada satupun obat yang bisa mempercepat penyembuhan cold.

Biasanya ringan meski bisa berlangsung sampai dengan 2 atau 3 minggu.

LESSON LEARNED:

Pelajari penyakitnya dan pelajari guideline tatalaksananya.

Terapi, TIDAK harus dalam bentuk obat.

Ketika butuh obat, Pelajari obatnya

Jangan berikan “obat” yang tidak kita ketahui informasinya.

INFORMASI terkait OBAT:

1. Kandungan aktifnya

2. Indikasi pemberiannya & mekanisme kerjanya.

3. Risiko efek sampingnya

4. Pelajari kontra indikasinya (kapan/siapa yang tidak boleh mengonsumsi obat ini)

5. Cara pakainya.

Sedapat mungkin, hindari:

– peresepan compounding/puyer

– jumlah obat yang terlalu banyak

(Banyak? Berapa obat disebut banyak? Jika tidak sesuai panduan, satupun sudah termasuk banyak).

Selalu simpan copy resepnya.

KESIMPULAN:

1. Jangan lelah bertanya.

2. Jangan lelah belajar.

3. Jangan lelah berbagi.

Be smarter; Be healthier

Wati

Share artikel ini: