Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Entah mengapa, susu soya di Indonesia banyak diberikan kepada bayi bahkan batita (bawah tiga tahun -red). Alasan orangtua, karena alergi susu sapi.

Sedikitnya, ada dua hal yang perlu dikritisi terkait alergi terhadap protein susu sapi ini.

Pertama, overlabelling.

Kedua, keliru tatalaksananya.

Coba baca-baca CMA (cow’s milk allergy) misalnya di AAP (American Academy of Pediatrics) dan di AAAAI (American Academy of Allergy and Immunology).

Prevalence of cow milk allergy in 1.9% to 3.2% of infants and young children, egg allergy in 2.6% of children by age 2.5 years, and peanut allergy in 0.4% to 0.6% of those younger than 18 years. 

Jadi, bayi yang alergi protein susu sapi gak banyak kok.

Kapan kita curiga alergi protein susu sapi?

These adverse reactions included urticaria, exanthema, atopic dermatitis, vomiting, diarrhea, wheezing or allergic rhinitis. (Biduran/urtikaria, eksantem, dermatitis atopi, diare, wheezing, rinitis alergi)

Dengan catatan, jangan dibalik ya. Bahwa kalau biduran, pasti alergi makanan atau alergi susu sapi.

Atau, kalau eksim/DA (dermatitis atopi), pasti alergi makanan. Dan seterusnya.

Selain gejala di atas, kita curiga kalau setelah stop susu, kita challenge (kita berikan lagi susunya), timbul gejala yang sama.

Kalau benar alergi protein susu sapi, solusinya bagaimana?

Berikan susu formula yang proteinnya sudah di hidrolisis. Disebut sebagai, susu protein hidrolisat.

BUKAN SUSU SOYA! Anak yang alergi protein susu sapu, akan alergi juga terhadap protein soya.

Apakah ibu perlu pantang susu sapi?

Masih jadi perdebatan. Panduan tatalaksana saat ini, tidak mendukung konsep avoidance ini baik pada ibu hamil maupun menyusui.

Menariknya, beberapa studi menemukan bahwa justru paparan terhadap susu sapi di awal usia, membantu menurunkan risiko sensitisasi terhadap protein susu sapi. Lihat studi Peter di bawah ini:

Peters et al reported that exposure to cow’s milk protein in the first 3 months of life was associated with a reduced risk of cow’s milk sensitization (odds ratio 0.44).

Jadi?

1. Jika curiga alergi protein susu sapi, baca-baca tentang CMA di AAP dan AAAI (American Academy of Allergy and Immunology).

2. Konsultasi dengan DSA yang ahli alergi (hati-hati, bukan dsa yang meng alergi kan pasien-pasiennya).

3. Seandainya benar alergi protein susu sapi, berikan susu protein hidrolisat. BUKAN susu soya.

4. Seandainya karena satu dan lain hal, bayi butuh susu formula sapi, dan di keluarga ada riwayat alergi, tidak perlu melakukan upaya preventif dengan memberikan susu sapi yang proteinnya dihidrolisis; juga tidak perlu susu soya.

Semoga bermanfaat.

Wati

Share artikel ini: