Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Saat kita punya niat membeli sesuatu yang kita anggap penting, biasanya kita window shopping terlebih dahulu.

Mungkin istilah kerennya, studi banding. Kita bandingkan beberapa merek, kita bandingkan spesifikasinya, harganya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Nah, idealnya, hal yang sama kita lakukan saat akan belanja pelayanan kesehatan.

KAPAN KITA WINDOW SHOPPING?

Umumnya window shopping dilakukan sebelum hamil.

PARAMETER APA YANG DIPAKAI SAAT WINDOW SHOPPING?

Idealnya, kita telaah sedikitnya dari beberapa aspek berikut, yaitu aspek fasilitas kesehatannya dan aspek tenaga kesehatannya (dokter dan perawat).

1. RUMAH SAKIT nya

1. A. Jarak

1. B. Tarif.

Biasanya ada paket melahirkan. Pelajari dengan teliti. Pelajari pula apakah bisa tanpa paket; misalnya, paket melahirkan 3 hari, tanyakan, bagaimana kalau hanya 2 hari atau 1 hari?

Pelajari tarif di VIP, Kelas I sampai dengan kelas III (berapa kapasitas kelas 3? Biasanya sedikit).

Berapa tarif dokter di masing-masing kelas?

Berapa tarif laboratorium, screening (penyaringan -red) bayi baru lahir (BBL) di masing-masing kelas?

Kalau harus melakukan terapi sinar, berapa tarifnya (biasanya per lampu).

1. C. Rekanan asuransi

1. D. Kemudahan informasi (layanan telepon, layanan costumer service).

1. E. NICU.

Meski sulit, tanyakan Kelengkapannya,

Ditelusuri apakah tersedia spesialis anak konsultan neonatologi. Karena idealnya, di NICU dipegang oleh konsultan neonatologi.

Tanyakan tarif kasar di NICU (belum termasuk obat).

1. F. Pasien berhak memilih tenaga kesehatan (dokter anak) sesuai dengan yang diinginkan (pasien tidak terikat pada keharusan mematuhi daftar dokter yang bertugas hari itu).

1. G. Konsultan laktasi.

Berapa tarifnya setiap visit (kunjungan -red)?

Apakah boleh meminta agar tidak perlu di-visit konsultan laktasi?

1. H. Sistem rujukannya bagaimana.

Apakah ada kerjasama dengan NICU RS tertentu?

Ketersediaan ambulans setiap saat (punya berapa ambulans?)

Berapa tarif pemakaian ambulans? Apakah tarif itu sudah termasuk biaya tenaga kesehatan yang mendampingi selama perjalanan?

2. DOKTERnya.

Selama ini, apa parameter yang dipakai untuk memilih SpOG (dokter kandungan -red) dan SpA (dokter anak -red)?

Rata-rata, pilih SpOG yang komunikatif, meski definisi komunikatif ini juga perlu direnungkan lebih dalam.

Komunikatif idealnya mencakup informatif (memberikan penjelasan yang obyektif). Diskusi atas dasar evidence (bukti ilmiah), bukan sekedar pengalaman.

SpOG juga harus yang highly skilled (memiliki ketrampilan tinggi -red).

Mungkin harus waspada jika angka sectio(operasi sesar -red)nya tinggi.

Bagaimana dengan SpA? Jika kehamilan berisiko, pilih yang pakar neonatologi.

Jangan terpukau oleh banyaknya pasien yang ditangani.

Baca jaundice, baca hipotermi, baca hipoglikemia (kalau bayinya besar atau berat lahir rendah).

3. PERAWATnya

Mereka garda terdepan.

Untuk kehamilan berisiko, perawat NICU memang khusus trainingnya.

Jadi?

Tidak semudah itu untuk memilih yang tepat, khususnya jika kehamilan berisiko.

Untuk lahiran normal, lebih sederhana.

Baca ACOG (The American College of Obstetricians and Gynecologists) dan lain-lain.

Jangan terpaku pada slogan. Misalnya, pro ASI (Memangnya ada fasilitas kesehatan yang anti ASI?). Justru saat ini, per-ASI-an bisa jadi komoditi bisnis.

Misalnya lagi, pro RUM (Rational Use of Medicine = Penggunaan obat secara rasional -red). Ketika orang tuanya tidak paham makna RUM dan implementasinya di kehidupan sehari-hari.

Jadilah konsumen kesehatan yang bijak. Santun tetapi berbobot (kuat modal ilmunya, bukan bermodalkan: katanya).

Konsumen yang bijak tidak menganggap ilmunya sudah cukup. Terus belajar, membaca, mengembangkan diskusi positif dengan sumber yang dapat diandalkan.

Happy window shopping,

Wati

Share artikel ini: