Dear all,

Selamat pagi,

“Saya kena asam lambung!”

“Kata dokter, saya punya maag”

“Saya sedang dalam perawatan asam lambung”

Dan seterusnya, dan seterusnya

Dan ketika saya tanya, apa keluhan ibu? Apa yang dirasakan?

“Kembung.”

“Perut penuh. Pusing. Lemes.”

“Dada gak enak. Lemes. Makan mual.”

Dst dst, kurang lebih sama.

Celakanya … Diagnosis yang tidak jelas ini, jadi diagnosis keranjang sampah. Artinya, banyak pasien ketika dokter tidak menemukan kelainan, lantas dicap … “Diagnosis: asam lambung”.

Mengapa bisa begini?

Kalau kita simak keluhan-keluhan di atas, kan tidak khas. Artinya, tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Umumnya rasa tak nyaman di perut dengan lemas atau pusing … merupakan gejala prodromal infeksi virus.

Prodromal = gejala awal, sebelum yang bersangkutan benar-benar ambruk.

Sedihnya, tidak sedikit masyarakat yang memiliki mind set yang intinya:

asam lambung itu JAHAT/BAHAYA.

Lalu … mengapa Tuhan menciptakan asam lambung?

Pertama,

Lambung gerbang masuknya mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, parasit) melalui makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Kedua,

Mikro organisme tersebut mati di lingkungan asam (pH rendah)..

Jadi?

Kalau tidak punya asam lambung, celaka! Kita rentan infeksi.

Asam lambung baru menyebabkan masalah kalau di lambung ada tukak. Atau kalau dia bolak balik naik ke atas dan menyebabkan iritasi esofagus.

Jadi?

Pertama,

Hati-hati kalau dilabel asam lambung. Minta diagnosis dalam bahasa medis.

Dyspepsia dan gratitis akan membaik dengan mengubah pola hidup (baca di mayo clinic)

Kedua,

Hati-hati mengonsumsi obat untuk menurunkan asam lambung.

Apakah itu golongan H2 antagonis (ranitidine; merek mah macam-macam) atau golongan PPI (omeprazole).

Jangan basmi asam lambung. Sila baca di web milissehatyop plus di link di bawah ini.

Salam

Wati

(There is a reason to everything)

https://www.straitstimes.com/singapore/health/hsa-stops-supply-of-8-medicines-used-to-treat-heartburn-due-to-cancer-causing

Share artikel ini: