Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Menarik menyimak profil beban biaya medis yang setiap tahun harus dikeluarkan suatu perusahaan.

Salah satu komponen biaya yang cukup besar adalah ISPA (batuk pilek) dan “typhoid“.

KASUS I.

Suatu hari saudara saya mengirimkan pesan lewat WA (Whatsapp). Anak putri semata wayangnya, sakit. Demam.

I : Aneh deh. Baru 2 minggu yang lalu dia diopname. Tipes. Sekarang demam lagi. Tadi malam menggigil.(Catatan: 3 bulan yang lalu juga rawat inap. Tipes, katanya).

I : Tadi malam dibawa ke UGD. (Hasil pemeriksaan)Lab normal tapi katanya tipesnya masih ada. Sisa yang lalu.

W : Membatin (ya ceknya Widal, pasti positif. Artinya, antibodi terhadap bakteri Salmonella nya kan terbentuk di semua orang Indonesia).

I : Jadi diinfus. Habis satu botol, dipulangkan. Naaah, sekarang demam lagi tapi anakku gak mau dibawa ke UGD, takut gak diopname kayak kemarin.

W : (Berdoa)

I : Pagi. Anakku sekarang diopname. Ini barusan diuap. Banyak batuk akibat tipusnya.

W : (Menarik nafas dalam).

Ada yang mau menganalisis kasus ini?

KASUS II.

Suatu hari, ketika memberikan upaya promotif di suatu perusahaan, salah satu peserta bertanya sebagai berikut:

P : Dok, bulan yang lalu saya dirawat inap. Gejala tipes.

Tahun yang lalu, dua kali saya diopname lantaran tipes juga.

Bagaimana caranya supaya saya tidak bolak balik tipes?

W : (Tarik napas prihatin dulu aaah….). Waktu rawat inap kemarin, demamnya berapa hari? Ada gejala lain apa saja selain demam?

P : Demam 2 hari, Dok. Tapi tinggi. (Berapa tinggi?) Ya, kira-kira 38o atau 38.5oC. Ya, batuk-batuk, Dok.

W : Demam 2 hari, ada batuk-batuk, sebetulnya tidak perlu cek lab kan ya? Kan kemungkinannya ya ISPA. Common cold.

P : Tapi kata dokternya, Widalnya positif. Saya tipes.

W : (Waduuuh masih saja berguguran korban tes Widal).

Dik, kita bahas dulu perihal DEMAM TYPHOID.

Penyebabnya: bakteri Salmonella typhosa; yang masuk melalui makanan atau minuman yang tercemar.

Prevalensi: Indonesia merupakan daerah endemis infeksi bakteri ini. Tertinggi pada anak besar dan dewasa (bayi yang masih mengonsumsi makanan rumah biasanya lebih kecil risiko tercemar bakteri ini).

Gejala: demam yang semakin hari semakan tinggi. Kesadaran berkabut. Tampak sakit berat. Gejala lainnya sila browsing.

Kesimpulan

1. Demam 2 hari, jangan buru-buru memikirkan demam typhoid.

2. Kalau demam sudah 5 atau 7 hari, demam makin hari makin tinggi (bukan on off), dan tampak sakit berat, sila pikirkan demam typhoid.

3. Jangan cek WIDAL. Tidak ada manfaatnya. Buang-buang uang. Dan potensial overtreatment (rawat inap, antibiotik, dll).

Padahal, orang Indonesia umumnya sudah punya antibodi terhadap bakteri ini. Bukan sakit tipes!

4. Ayo imunisasi typhus! 3 tahun sekali.

5. Ayo jaga kebersihan pangan yang kita konsumsi!

Sebagai penutup, saya chat lagi dengan saudara saya. Anaknya sudah pulang tapi harus meneruskan antibiotiknya.

Minggu depan harus kontrol karena typhusnya sudah mengenai kandung empedu.

Akhirnya saya memberanikan bertanya

W : Tes utk typhoidnya apa? Widal?

I : Iya.

W : Widal tidak bisa dipakai untuk pegangan mendiagnosis demam typhoid. Semua orang Indonesia kalau cek Widal, (hasilnya) positif.

I : Tapi asuransi hanya ganti kalau tesnya Widal

Sampai disini, saya pun berhenti. Membingungkan!

Kesimpulannya, be a smart patient. Be your best health advocate.

Lindungi diri Anda, keluarga Anda.

Say BIG NO to Widal test.

Wati

Share artikel ini: