Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Sejak saya jadi mahasiswa di fakultas kedokteran, sampai dengan saat ini sebagai dokter spesialis anak, 99,99% MPASI bayi kita, adalah nasi tim.

Ini membuat saya tertarik mempelajari dan mengamati dunia kuliner bayi. India, Jepang, Australia, Caucasians lain, Woow bayi-bayi lucu tersebut gak ada yang makan nasi tim.

Di era sosmed ini, di youtube, banyak ibu-ibu menayangkan feeding time bayi mereka. Menunya sangat beragam. Gak ada nasi tim.

Memangnya apa yang salah dengan nasi tim?

Suatu hari, saya bertanya ke salah satu senior saya.

W : Dok, maaf, boleh ya saya tanya. Mengapa makanan bayi kita, setiap hari, nasi tim?

S : Ya itu kan bentuk terbaik. Teksturnya, kandungannya, sudah teruji terbaik buat bayi.

Saya tidak berani melanjutkan percakapan. Di benak saya, bermunculan berbagai menu makanan bayi yang menarik.

Sebagai contoh, saya penggemar nasi liwet. Lalu setiap hari, saya disuguhi menu nasi liwet cuma kembangannya saja yang beda-beda. Pasti dalam waktu singkat, otak saya menolak si nasi liwet tersebut.

Nasi tim bayi lebih parah lagi dari nasi liwet saya di atas.

Semua dicampur jadi satu.

Aneh rasanya. Gado-gado dicampur soto ayam.

Menumpulkan perkembangan panca indra pengecap!

Nasi tim bayi kita juga parah karena adonan campur aduk itu harus dimakan 3x sehari. Setiap hari.

Nasi tim itu juga parah karena tidak seimbang pemenuhan nutrien utk bayi. Berat di karbo.

Bayi juga manusia, punya rasa. Mari kita hormati kebutuhan kulinernya yang sekaligus memenuhi kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang.

Pasien-pasien saya pasti sudah hafal tuh celetukan saya sebagai berikut:

Bu, makan nasi mah sebulan sekali juga gak papa. Wong nasi gak ada kandungan gizinya.”

Selamat berevolusi pangan,

Wati

Share artikel ini: