Dear all,

Selamat pagi. Semoga semua berbahagia.

Suatu ketika, seorang ibu muda datang membawa bayinya berusia 11 bulan. “BB nya seret, Dok. Sudah 3 bulan”.

Saya pelajari buku paspor kesehatannya. Ternyata, laju pertumbuhan sudah melambat sejak usia 3 bulan.

W : Ibu bekerja?

I : Nggak dok

W : Ibu perah asi teratur?

I : Nggak dok. Kan saya 24 jam sama dia. Direct breastfeeding, Dok (nada bangga). Dia nenen terus.

W : (mbatin, hmm… Keliru pertama.)

W : Dia nenen tiap berapa jam bu?

I : Sering dok. Apalagi malam.

W : (mbatin, hmmm…). Kalau nenen berapa lama?

I : Lama dok. Sebentar-sebentar tapi terus nyambung.

W : Bu, ini pertumbuhannya sudah tidak bagus sejak usia 3 bulan kok.

I : Diam saja, sambil memperhatikan growth chart.

Akhirnya ibu berkata: Usia 4.5 bulan, dia mulai MPASI. Disuruh belajar oleh DSA (dokter spesialis anak -red)nya.

W : MPASI pertamanya apa, Bu?

I : Air buah.

W : Ooh… (kok indikasinya, latihan); protein hewani diperkenalkan usia berapa?

I : 7 bulan, Dok

W : Menu MPASI sekarang apa?

I : 4 bintang, Dok. Lengkap. Tapi dia tutup mulut.

W : Makanannya apa saja ya?

Si ibu jawabannya kembali normatif.

W : Kalau gitu saya tanyanya gini deh, tadi pagi makannya apa?

I : Bubur pakai ati

W : Kemarin pagi?

I : Bubur pakai ati juga. Siang dan malam juga sama. Saya bikinnya sekaligus buat satu hari.

W : Ooh… Kemarin bubur ati. Tadi pagi bubur ati. Sayurnya mana?

I : Nggak dok. Sayur kan bikin sembelit.

Saya pun membatin:

  1. Pantas anaknya menolak. Booorriiiiiinggggg.

  2. Pantas growth ratenya tidak bagus. Hari-hari yang dominan bubur nasi.

  3. Kenapa harus ati? Kalau tidak bisa beli red meat, sila beli ati. Kalau mampu beli red meat dan ikan, ya jangan ati. Ati kan organ detoksikasi.

Selamat bertualang di dunia kuliner,

Wati

Share artikel ini: