Cacing tambang berukuran sekitar 1 cm, di dalam mulutnya terdapat sepasang gigi yang dapat melekat pada lapisan usus seperti kait. Cacing betina dapat menghasilkan 9000-10.000 butir telur sehari. telur cacing akan keluar bersama tinja dan akan berkembang menjadi larva dalam tanah. Larva cacing tambang dapat menembus kulit dan dibawa melalui aliran darah ke jantung dan paru-paru. Larva dapat masuk ke saluran napas dan kerongkongan sehingga tertelan dan berkembang biak menjadi cacing dewasa di usus.

Cacing dewasa yang berada di usus halus melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Kehilangan darah secara perlahan-lahan menyebabkan anemia. Namun jangan selalu memikirkan cacingan sebagai penyebab anemia, karena anemia dapat terjadi oleh berbagai sebab.

Gejala klinis akibat infeksi cacing tambang antara lain lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit, prestasi kerja menurun dan anemia. Penyebaran penyakit tertinggi pada perkebunan yang menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk. Cara pencegahannya adalah menggunakan alas kaki jika bermain di luar rumah terutama daerah perkebunan. Obat untuk cacing tambang adalah pyrantel pamoat, mebendazole dan albendazole. (WIN)

Sumber: Pedoman pengendalian cacingan. KEMENKES. 2006

Share artikel ini: