BRONKIOLITIS – YANG PERLU ANDA KETAHUI

Bronkiolitis adalah infeksi saluran napas bagian bawah yang umum ditemui pada anak-anak, terutama pada bayi berusia di bawah 12 bulan, yang menyebabkan anak mengalam kesulitan bernapas. Virus yang paling umum menyebabkan bronkiolitis adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV), walaupun bronkiolitis dapat juga disebabkan oleh virus lain seperti Metapneumovirus, Adenovirus, dan Parainfluenza virus.

Infeksi menyebabkan penyempitan dari saluran napas kecil akibat pembengkakan/edema dindingnya sehingga udara terperangkap (air trapping) dan penyerapan oksigen dari aliran darah paru-paru tidak optimal. Selain itu, inflamasi juga menyebabkan peningkatan produksi mukus di saluran napas.

Bronkiolitis berawal seperti infeksi saluran napas atas (common cold): hidung berair dan tersumbat. Setelah 1-2 dua hari, bayi akan mulai batuk, mengalami demam, dan napasnya akan menjadi cepat diiringi bunyi mengi/wheeze. Napas yang cepat ini mengakibatkan bayi mengalami kesulitan makan atau minum. Otot-otot bantu pernapasan seperti otot sekitar hidung, leher, dan dada mungkin perlu digunakan sehingga dada bayi dapat tampak tertarik setiap mengambil napas.

Gejala paling berat umumnya dialami di sekitar hari ketiga. Bayi dapat sakit selama 7-10 hari dan batuk dapat berlanjut hingga 2-4 minggu.

Sebagian besar anak dengan bronkiolitis tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit. Pada bronkiolitis yang disebabkan RSV, hanya 1-2% yang membutuhkan perawatan inap.

YANG PERLU DILAKUKAN PADA BRONKIOLITIS

1. Evaluasi riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik dengan teliti, terutama faktor risiko untuk bronkiolitis berat

Diagnosis bronkiolitis pada anak tanpa faktor risiko adalah diagnosis klinis berdasar riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Bronkiolitis merupakan penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Namun penyakit ini dapat berbahaya pada anak dengan kondisi yang meningkatkan kemungkinan mereka mengalami bronkiolitis berat. Kondisi-kondisi itulah yang disebut faktor risiko, seperti prematuritas dan gangguan pernapasan, jantung, otot, dan kekebalan tubuh.

2. Penanganan suportif dengan memastikan terjaganya oksigenasi

Oksigenasi adalah status kecukupan oksigen yang dialirkan ke jaringan tubuh. Kadar saturasi oksigen yang dibutuhkan untuk mempertahankan oksigenasi jaringan adalah 90%. Jika anak menunjukkan gejala/tanda yang cukup signifikan (lihat Penilaian Berat Penyakit di BACA LEBIH JAUH), dokter umumnya akan memeriksa saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oxymeter (alat non-invasif yang dipasang di jari untuk beberapa detik). Anak dengan saturasi oksigen di bawah 90% membutuhkan oksigen tambahan, dan karena itu membutuhkan perawatan di rumah sakit (lihat Penanganan di BACA LEBIH JAUH).

3. Penanganan suportif dengan memastikan terjaganya hidrasi

Hidrasi adalah status kecukupan cairan dalam tubuh, yang pada bayi diperoleh melalui ASI, formula, atau makanan tambahan sesuai usia. Pemberian makan dapat dilakukan dalam porsi lebih kecil, namun dengan frekuensi lebih sering, sehingga anak tidak akan terlalu lelah atau mengalami dehidrasi. Jika anak tidak dapat mempertahankan status hidrasi, pemberian cairan dilakukan melalui selang nasogastrik atau infus, dan karena itu membutuhkan perawatan di rumah sakit (lihat Penanganan di BACA LEBIH JAUH).

4. Penanganan suportif dengan memastikan istirahat yang cukup

Dengan istirahat yang cukup, metabolisme anak akan terjaga minimal dan energinya dapat dipusatkan untuk proses pemulihan.

5. Hindarkan bayi dari asap rokok

YANG TIDAK PERLU DILAKUKAN PADA BRONKIOLITIS

1. Pemeriksaan laboratorium atau radiografi tidak diperlukan untuk menegakkan diagnosis

Pemeriksaan hitung sel darah atau analisis gas darah dapat dilakukan bila anak tampak sakit berat dan membutuhkan perawatan inap di rumah sakit. Pemeriksaan antigen atau PCR (untuk mendeteksi fragmen gen) virus dapat dilakukan bila anak membutuhkan perawatan inap di rumah sakit, karena jika virus seperti RSV atau Influenza virus terdeteksi, langkah pencegahan penyebaran infeksi di rumah sakit dapat dilakukan lebih baik.

Di negara-negara dengan musim influenza yang terdeskripsi jelas, pemeriksaan penunjang dengan PCR dari nasofaring dianjurkan untuk anak berusia di bawah 2 tahun atau anak dengan faktor risiko. Pada kelompok-kelompok tersebut, jika pemeriksaan penunjang menunjukkan bukti Influenza Virus, antivirus khusus untuk influenza dapat diberikan. Karena musim influenza di negara tropis seperti Indonesia masih belum terdeskripsi dengan jelas, rekomendasi ini belum dapat diterapkan.

Pemeriksaan rontgen paru-paru saat ini hanya dianjurkan apabila terdapat penyakit paru dan jantung sebelumnya atau jika kondisi anak tampak sakit berat.

2. Antibiotik tidak diperlukan

Bronkiolitis disebabkan oleh virus, dan karena itu antibiotik (obat yang membunuh atau menghentikan pertumbuhan bakteri) tidak akan membantu. Pemberian antibiotik tanpa indikasi hanya meningkatkan risiko efek samping (seperti diare) dan terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Antibiotik dapat diberikan pada pasien dengan gejala yang sangat berat dan kecurigaan adanya infeksi bakteri, dan harus didahului dengan kultur bakteri dari darah dan lokasi lain yang mencurigakan agar antibiotik dapat disesuaikan dengan bakteri yang tumbuh atau dihentikan (jika kultur negatif).

3. Bronkodilator tidak dianjurkan

Dahulu, bronkodilator (obat untuk memperlebar saluran napas )seperti salbutamol (albuterol) dan epinefrin dapat dicoba diberikan pada populasi tertentu (seperti anak dengan riwayat asma dan hanya diteruskan jika terdapat respon baik terhadap bronkodilator). Namun, penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa bronkodilator tidak bermanfaat pada bronkiolitis. Di sisi lain, obat ini memiliki risiko efek samping seperti tremor dan peningkatan frekuensi denyut jantung.

4. Inhalasi saline hipertonik tidak dianjurkan untuk anak yang tidak membutuhkan perawatan inap di rumah sakit

Untuk sebagian besar bronkiolitis, inhalasi saline hipertonik (NaCl 3%) tidak memberikan manfaat berarti. Terapi ini dapat dipertimbangkan pada anak yang membutuhkan perawatan inap karena beberapa penelitian menunjukkan pengurangan lama perawatan di rumah sakit.

5. Chest physiotherapy tidak dianjurkan

Chest physiotherapy tidak menunjukkan efektivitas dan perbaikan klinis yang bermakna pada anak dengan bronkiolitis.

6. Antivirus umumnya tidak diperlukan

Antivirus tidak diindikasikan pada bronkiolitis kecuali pada kelompok pasien tertentu yang terbukti mengalami infeksi oleh Influenza Virus (dengan pemeriksaan antigen atau PCR virus), di mana oseltamivir atau zanamivir dapat digunakan.

Ribavirin dapat digunakan untuk tata laksana bronkiolitis yang disebabkan RSV, namun hanya pada kasus-kasus sangat berat seperti pasien dengan bantuan ventilasi mekanik, adanya penyakit paru kronik lain yang menyertai (fibrosis kistik, displasia bronkopulmoner), serta kondisi imunitas yang rendah (penerima cangkok organ). Antivirus ini sangat sulit untuk diberikan, efektivitasnya masih diragukan, dan memiliki risiko efek toksik yang berbahaya untuk tenaga kesehatan yang memberikannya.

7. Kortikosteroid (seperti prednisone, dexamethasone) tidak diperlukan

Penelitian-penelitian terbaru tidak menunjukkan efektivitas kortikosteroid pada bronkiolitis. Di samping itu, kortikosteroid justru dapat memperpanjang durasi viral shedding (dilepaskannya virus ke lingkungan) pada anak yang mengalami bronkiolitis.

8. Imunomodulator atau immune booster tidak diperlukan

Imunomodulator seperti isoprinosine atau zat herbal yang terkandung dalam obat-obat yang dipasarkan sebagai immune booster seperti Immunoboost (yang mengandung Echinacea) atau Stimuno (yang mengandung Phyllantrus niruri) tidak menyembuhkan atau mempercepat penyembuhan bronkiolitis.


PENCEGAHAN

  • Selalu mencuci tangan dengan benar sebelum menggendong bayi
  • Minimalkan kontak dengan orang yang mengalami gejala common cold atau bronkiolitis
  • Hindari membawa bayi ke tempat ramai
  • Hindarkan bayi dari asap rokok

Anak Anda perlu segera dibawa ke dokter atau RS jika ia:

  • Mengalami kesulitan bernapas (sangat cepat atau tidak teratur)
  • Tidak dapat makan seperti biasanya karena batuk atau mengi
  • Menunjukkan perubahan warna di wajah saat batuk
  • Tampak biru atau pucat dan berkeringat

Selain itu, jika anak Anda tidak mengalami tanda-tanda bahaya seperti yang disebutkan di atas, Anda perlu mengunjungi dokter anak Anda jika anak Anda:

  • Mengalami batuk yang memburuk
  • Makan kurang dari setengah jumlah makan normalnya atau menolak makanan/minuman
  • Tampak sangat lelah atau jauh lebih mengantuk dari biasanya
  • Anda merasa khawatir


dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP dan dr. Windhi Kresnawati. Disarikan dari sumber-sumber berikut:

http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheets.cfm?doc_id=3717

http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/Bronchiolitis_Guideline/

http://www.cdc.gov/flu/professionals/antivirals/antiviral-use-influenza.htm#indications

http://redbook.solutions.aap.org/chapter.aspx?sectionId=56798348&bookId=886&resultClick=1#56804861

http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/chest-lungs/Pages/Protecting-Your-Baby-from-RSV.aspx

http://pediatrics.aappublications.org/content/early/2014/10/21/peds.2014-2742.full.pdf+html

Share artikel ini: