Poliomyelitis, atau lebih dikenal dengan polio, adalah penyakit mengancam nyawa yang disebabkan oleh virus polio. Virus yang masuk tubuh melalui saluran nafas dan saluran cerna ini lebih sering menyerang anak-anak terutama balita. Infeksinya dapat mengenai tulang belakang dan menyebabkan kelumpuhan / paralisis. Sekitar 25% dari orang yang terinfeksi virus polio akan memiliki gejala seperti flu-like syndrome, yaitu:

  • Sakit tenggorokan

  • Demam

  • Letih

  • Mual

  • Sakit kepala

  • Nyeri perut

Biasanya gejala nya akan muncul selama 2 sampai 5 hari, lalu akan sembuh sendiri. Pada sebagian kecil kasus, gejala yang timbul lebih berat dan dapat mengenai otak dan tulang belakang, yaitu:

  • Parestese (rasa kesemutan atau kebas pada kaki)

  • Meningitis (infeksi selaput tulang belakang dan/ atau selaput otak)

  • Paralisis (kelemahan ekstremitas)

Salah satu komplikasi dari polio adalah lumpuh layu (atau bahasa medisnya: Acute Flaccid Paralysis). Lumpuh layu adalah kondisi dimana terjadi kelemahan otot yang dapat terjadi di ekstremitas (tangan atau kaki), otot pernafasan, otot menelan dan lain-lain. Banyak yang mengira lumpuh layu adalah penyakit polio, sebenarnya polio merupakan salah satu penyebab lumpuh layu. Ada beberapa penyakit lain yang dapat menyebabkan lumpuh layu seperti GBS, trauma, dan virus lainnya. Apabila terjadi kelemahan di ekstremitas, otot yang tidak digunakan lama kelamaan akan mengecil dan menyebabkan kecacatan. Yang paling berbahaya adalah apabila kelemahan terjadi pada saluran pernafasan karena akan menyebabkan kegagalan nafas dan kematian.

Penyebaran polio virus antar manusia sangatlah mudah terjadi. Yang utama adalah melalui kontaminasi feses yaitu secara fecal-oral, selain itu dapat melalui droplet / udara namun jauh lebih jarang. Faktor yang memengaruhi adalah kebersihan lingkungan khususnya air dan makanan. Seseorang yang terinfeksi virus polio dapat menularkan ke orang lain dalam 2 minggu sejak gejala muncul.

Bagaimana mencegah polio?

Pencegahan polio dapat dilakukan dengan pemberian vaksin polio. Saat ini ada 2 jenis vaksin yang beredar, yaitu OPV (Oral Polio Vaccine) dan IPV (Inactivated Polio Vaccine).

Perbedaan

OPV (Oral Polio Vaccine)

IPV (Inactivated Polio Vaccine)

Jenis

Virus polio yang dilemahkan

Virus polio inaktif yang sudah mati

Cara pemakaian

Tetes dimulut

Suntikan / injeksi

Kandungan

Trivalent OPV

mengandung 3 strain virus polio

Mengandung ke 3 strain virus polio

Bivalent OPV

mengandung strain tipe 1 dan 3

Monovalent OPV

mengandung 1 strain

Harga

Lebih murah

Lebih mahal

Imunitas saluran cerna

iya

tidak

Sisa virus dalam feses

Iya

tidak

Berisiko menyebabkan VDP

Iya

tidak

Vaksin OPV diberikan melalui mulut, masuk ke dalam saluran cerna dan merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi. Selain itu virus vaksin ini juga dikeluarkan melalui feses dan kemudian tersebar ke lingkungannya, terutama pada daerah dengan sanitasi kurang baik. Virus vaksin yang tersebar ini akan menyebabkan anak lain terimunisasi secara pasif sebelum akhirnya virus tersebut mati. Oleh karena itu OPV memiliki keuntungan, bukan hanya anak yang diimunisasi saja yang terlindungi, namun juga lingkungannya.

Apa yang dimaksud dengan Vaccine-derived Polio?

Seperti yang sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya, vaksin polio oral diberikan melalui saluran cerna, membentuk antibodi dengan merangsang sistem imun, keluar melalui feses dan kemudian tersebar di lingkungan sebelum virus vaksin tersebut mati. Siklus inilah yang diharapkan terjadi. Namun pada beberapa kasus, siklus tersebut tidak berjalan lancar.

  • Yang pertama, apabila masuk ke tubuh anak dengan sistem imunitas yang rendah akan menyebabkan virus vaksin bertahan lebih lama dari yang diharapkan, dan kemudian memberi waktu untuk virus vaksin tersebut untuk bermutasi secara genetik. Inilah yang disebut dengan Immunodeficiency-related Vaccine-derived Poliovirus (iVDPV).

  • Yang kedua, bila kemudian sudah keluar melalui feses dan menyebar dilingkungan dengan tingkat imunisasi polio yang rendah dan sanitasi yang buruk, virus vaksin akan bertahan lebih lama dari biasanya (lebih dari 12 bulan), memberi waktu untuk bermutasi dan berubah menjadi berbahaya. Inilah yang dikenal dengan circulating Vaccine-derived Poliovirus (cVDPV).

  • Yang ketiga dikenal dengan nama ambiguous Vaccine-derived Poliovirus (aVDPV), yang termasuk golongan ini adalah VDPV yang tidak dapat digolongkan ke 2 golongan lainnya.

Apakah Vaccine-derived Polio berbahaya?

Tentu. Prinsip utama pemberian vaksin polio adalah virus polio asli (atau untuk mudahnya kita sebut dengan Wild Polio Virus / WPV), dilemahkan dan diberikan kepada anak sehat, untuk merangsang terjadinya kekebalan tubuh terhadap virus polio. Karena sudah dilemahkan, gejala polio seperti parestese, paralisis dan lain2 tidak muncul. Bila terjadi mutasi genetik karena lamanya peredaran virus vaksin, dan menjadi VDPV, anak yang terinfeksi akan mendapat gejala seperti bila dia terinfeksi WPV. Sama seperti WPV, gejala yang muncul bisa terjadi paralisis yang dapat menyebabkan kematian.

Bukankah polio sudah tidak ada lagi?

Di akhir tahun 2019, ditemukan laporan kasus polio di Malaysia:

Seorang bayi berusia 3 bulan dari Tuaran, ibukota Sabah, terkena polio. Bayi tersebut sudah diberikan imunisisasi polio dosis pertama (usia 2 bulan). Dia dirawat di ICU rumah sakit setempat dan didiagnosis dengan Vaccine-derived poliovirus type 1 (VDPV1). Diduga virus tersebut didapat dari lingkungan sekitar melalui air /makanan atau sanitasi yang kurang baik.Pada saat kejadian polio tersebut, dilakukan investigasi terhadap anak-anak di Sabah yang berusia antara 2 bulan hingga 15 tahun, dan ditemukan ada 23 dari 199 anak yang tidak tervaksinasi polio. Dapat disimpulkan:

  • Anak tersebut sudah mendapat imunisasi polio dosis pertama (yang bisa mengurangi angka infeksi sekitar 30-40%), namun tetap terkena VDPV karena masih ada cukup banyak anak yang belum diimunisasi. Salah satu keuntungan dari OPV adalah selain memberi perlindungan terhadap anak yang divaksin, OPV juga memberikan perlindungan terhadap lingkungannya. Namun bila masih banyak anak yang tidak diberikan vaksinasi, risiko terjadinya VDPV (terutama cVDPV) akan meningkat.

  • Satu saja kasus polio dapat dikatakan wabah. Langkah selanjutnya harus dilakukan imunisasi ke semua komunitas untuk mencegah penyebaran dan menghentikan rantai kehidupan dari VDPV tersebut.

  • Kasus VDPV yang dilaporkan terjadi bukan hanya di Malaysia namun juga di Afrika dan Filipina (tahun 2019).

Kesimpulan

  • Sejak pertama diberikan, tahun 1988, OPV mengurangi angka kejadian polio sebesar 99,9%, yaitu dari 350.000 kasus menjadi kurang dari 120 kasus (pada tahun 2019). Walau ada risiko terjadi VDPV tapi keuntungan pemberian OPV masih jauh lebih baik, dengan catatan cakupan imunisasinya baik.

  • Permasalahan utama yang menyebabkan terjadinya Vaccine-derived Polio Virus bukanlah si vaksin OPV, tetapi rendahnya cakupan imunisasi dari vaksin tersebut. Jika anak-anak di sebuah daerah terimunisasi dengan baik, maka mereka akan terlindungi baik dari Wild Polio Virus maupun Vaccine-derived Polio Virus.

  • Virus polio strain tipe 2, merupakan yang paling sering menyebabkan terjadinya VDPV. Oleh karena itu, sejak tahun 2016, vaksin OPV yang sering diberikan adalah bivalent OPV, yang hanya mengandung strain 1 dan 3. Vaksin OPV inilah yang sekarang beredar dan diberikan di Indonesia.

Apa yang bisa kita lakukan secara personal untuk mencegah VDPV?

Memberikan vaksin polio pada anak sesuai jadwal anjuran yang ada (IDAI maupun CDC), untuk menjaga dan meningkatkan angka cakupan imunisasi.

Perlu diingat, yang menyebabkan terjadinya kelumpuhan adalah WPV dan VDPV, solusi dari keduanya adalah vaksinasi polio dan tingginya cakupan imunisasi.

Sumber:

https://www.thestar.com.my/news/nation/2019/12/08/polio-case-reported-in-malaysia–first-in-27-years

https://www.thestar.com.my/news/nation/2019/12/09/even-one-polio-case-is-an-outbreak

https://www.who.int/features/qa/64/en/

https://www.who.int/csr/don/24-october-2019-polio-the-philippines/en/

https://www.cdc.gov/polio/what-is-polio/index.htm

http://www.nicd.ac.za/wp-content/uploads/2017/03/PolioVDVP_FAQ_20181022_final.pdf

Share artikel ini: