Jakarta, 19 April 2016 – Resistensi antimikroba yang awalnya merupakan permasalahan kesehatan telah berkembang menjadi ancaman serius terhadap keamanan global, ketahanan pangan, serta menjadi tantangan pembangunan berkelanjutan dengan dampak yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi. Resistensi antimikroba tidak hanya terjadi pada manusia, namun juga pada hewan dan tanaman. Oleh karena itu diperlukan pendekatan One Health yang melibatkan sektor kesehatan, pertanian (termasuk peternakan dan kesehatan hewan) serta lingkungan. Demikian disampaikan oleh drh. Sri Mukartini, MAppSc., Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Kementerian Pertanian RI dalam acara Media Briefing di Balai Kartini hari ini.

Pemerintah Indonesia, bersama 11 negara Asia Pasifik lainnya telah bersepakat untuk bekerja sama dalam pengendalian resistensi antimikroba secara terpadu, kolaboratif, dan penguatan program melalui Rencana Aksi Nasional yang sejalan dengan Rencana Aksi Global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Komitmen ini dicanangkan dalam pertemuan para menteri kesehatan 12 negara di Asia Pasifik yang diadakan baru-baru ini di Tokyo oleh WHO Regional Asia Tenggara (SEARO) dan Regional Pasifik Barat (WPRO) bersama Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang.

Sementara itu, dr. Dewi Indriani, Penanggungjawab Resistensi Antimikroba WHO Indonesia, menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman berbagai pihak terkait, termasuk konsumen kesehatan, mengenai resistensi antimikroba melalui upaya komunikasi, edukasi dan pelatihan yang efektif. “Jika tidak segera ditangani, para pakar memperkirakan pada tahun 2050, resistensi antimikroba akan memakan korban jiwa sebesar 10 juta orang, termasuk 4,7 juta di kawasan Asia,” tambah Dewi. Menanggapi kebutuhan tersebut, Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) bekerja sama dengan WHO di Indonesia dan Kementerian Kesehatan, dengan dukungan dari ReAct, akan melaksanakan kegiatan edukasi kepada konsumen dan tenaga kesehatan di 5 kota (Medan, Padang, Bandung, Yogyakarta dan Makassar) dari bulan Mei hingga November 2016.

Dalam kesempatan ini, Imron Suandy, DVM., MVPH. dari Direktorat Kesmavet Kementerian Pertanian RI, serta Prof. Dr. dr. Kuntaman, MS., Sp.MK(K) dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan juga memaparkan rencana kegiatan masing-masing instansi untuk mengendalikan laju resistensi antimikroba di Indonesia dengan menggunakan pendekatan “One Health”.

Imron menjelaskan bahwa permasalahan resistensi antimikroba merupakan hal yang kompleks, sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan yang multi dimensi, multi faktor, dan multi stakeholder. “Dibutuhkan manajemen koordinasi lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan keamanan pangan, dengan melibatkan trans-disiplin keilmuan. Sektor kesehatan manusia, hewan, serta tumbuhan memiliki tanggung jawab bersama untuk dapat mengurangi laju perkembangan resistensi antimikroba ini,” jelas Imron.

Di bidang kesehatan manusia, hasil dari berbagai riset terkait resistensi mikroba, termasuk yang dilakukan oleh Kuntaman yang juga Guru Besar bidang Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya ini akan dijadikan dasar bagi KPRA untuk mengajukan pedoman kepada pemerintah dalam upaya meningkatkan penggunaan antibiotika secara bijak serta membuat peraturan terkait pembatasan penggunaan antibiotik di Indonesia. Peraturan tersebut antara lain mencakup pelarangan terhadap apotek untuk menjual obat tanpa resep, dan membatasi masyarakat untuk menggunakan obat-obatan tanpa resep dokter.

Mewakili suara konsumen kesehatan, pendiri YOP, dr. Purnamawati Sujud, Sp.A(K), MMPed menghimbau semua pihak terkait untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam mengendalikan penggunaan antibiotik di semua sektor agar dunia tidak kembali ke era sebelum ditemukannya antibiotik, yaitu era ketika infeksi bakteri dan penyakit ringan tidak lagi bisa ditangani dan dapat berujung pada kematian. Informasi selanjutnya mengenai resistensi antimikroba ini dapat dilihat di bijak-antibiotik.com atau reactgroup.org/toolbox.

Mengenai Yayasan Orang Tua Peduli (YOP)

YOP adalah lembaga nirlaba yang beranggotakan para orangtua dan tenaga kesehatan yang peduli akan kondisi dan kualitas kesehatan maupun lingkungan. Berlandaskan rasa sukarela dan kepedulian, YOP bertujuan menciptakan dan mewujudkan kesadaran serta pengetahuan orangtua khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya akan kondisi dan kualitas kesehatan di Indonesia sehingga tercapai lingkungan masyarakat Indonesia yang sehat dan kuat. Didirikan bulan November 2005, YOP telah memulai kegiatan sejak tahun 2003 di bawah bendera “Grup Sehat”. Kegiatan utama yang dilakukan YOP adalah edukasi mengenai penggunaan obat yang bijak sebagai bagian dari keselamatan pasien (patient safety).

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Vida Parady (Yayasan Orang Tua Peduli)

Pipit (Image Dynamics)

0812 8531 8742

0811 952 422

vida.parady@gmail.com

pipit@imagedynamics.co.id

Tel. (021) 759-11555

Share artikel ini: