Oleh Kelly Bonyata, IBCLC

Tentu saja! Tiap kali seorang bayi yang sakit mampu makan melalui mulut, makanan yang diberikan  harus ASI ibunya. ASI memberikan antibody yang secara khusus dirancang untuk melawan penyakit bayi, dan dengan cepat dan mudah dicerna.

Menyapih sementara selain mengurangi antibodi bayi untuk melawan penyakit dan sumber makanan yang paling mudah dicerna yang ada, dapat membuat hidup ibu dan bayi menjadi tidak nyaman. Menyusui sangat nyaman untuk bayi yang sakit dan merupakan bagian utama dari proses penyembuhan. Ibu juga harus memompa untuk menjaga pasokan susu dan itu pun masih akan ada resiko bahwa pasokan akan turun sedikit. Tidak memompa akan menempatkan ibu pada resiko infeksi payudara dan kondisi yang amat tidak nyaman.

Batuk pilek dan hidung tersumbat.

Jika bayi sedang pilek dan hidungnya tersumbat, hal tersebut dapat menyulitkan proses menyusui. Namun, hampir selalu lebih mudah bagi bayi sakit untuk menyusu daripada menggunakan botol. Jika bayi Anda memiliki hidung tersumbat dan mengalami kesulitan bernapas dan menyusu pada saat yang sama, coba cara-cara berikut ini:

  • Jaga agar bayi dalam posisi setegak mungkin selama menyusu. Pada malam hari, cobalah menopang dengan banyak bantal dan menyusu/tidur setengah tegak. Coba juga posisi Australia (ibu berada “di bawah”) – dalam posisi ini, ibu berbaring telentang dan bayi di atas (menghadap ke bawah), perut bayi menempel dengan perut dengan ibu.
  • Hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk membantu bayi agar cepat sembuh adalah dengan sering menyusui – dengan cara itu ia mendapatkan banyak antibodi yang dibuat oleh tubuh Anda untuk membantu memerangi penyakitnya. Sering menyusui juga membantu untuk memastikan bahwa bayi mendapatkan banyak susu (bayi yang hidungnya tersumbat seringkali menyusu dalam waktu yang lebih singkat karena sulit untuk bernapas dan menyusu pada waktu bersamaan).
  • Gunakan NaCl (larutan garam) tetes (atau ASI) dan bola karet pengisap untuk membersihkan hidung bayi sebelum menyusui (jika bayi tidak menyukai bola pengisap, maka NaCl tetes / ASI saja masih dapat membantu).
    • Letakkan bayi di atas lutut Anda, wajah menghadap ke atas dan tekuk lutut Anda agar sedikit turun (sehingga kepala bayi tertekuk menjauhi Anda, ke arah lantai).
    • Teteskan 2-3 tetes NaCl pada tiap lubang hidung dan biarkan selama semenit atau lebih.
    • Untuk mengisap ingus, remas bola karet terlebih dahulu lalu dengan lembut masukkan ujung karet ke salah satu lubang, lalu lepaskan remasan Anda.
    • Jika hidung bayi sangat tersumbat, Anda dapat melakukan hal ini berulang kali. Lakukan SEBELUM bayi menyusu; jika Anda melakukan setelah menyusui, bayi Anda akan mengeluarkan semua yang ia makan karena alat tetes/pengisap dapat merangsang refleks muntah.
    • Untuk membuat tetes larutan garam di rumah, larutkan satu sendok teh garam dalam dua gelas air hangat.
  • Nyalakan vaporizer atau pelembab udara, terutama di ruang kecil tertutup.
  • Rebus satu panci air (beberapa ibu menggunakan panci kecil /potpourri), angkat dari kompor dan tambahkan beberapa tetes minyak esensial (misalnya, kayu putih, sage atau balsam), dan biarkan aromanya memenuhi udara. Hal ini dapat membantu meringankan hidung tersumbat.
  • JANGAN oleskan produk yang mengandung minyak peppermint, kamper atau mentol di muka (terutama di hidung) atau dada bayi atau anak muda. Ada beberapa kasus di mana pengolesan langsung produk mentol atau kamper (misalnya, Vicks VapoRub ™) pada kulit bayi menyebabkan kesulitan bernapas yang berat atau masalah pada hati.
  • Susui di dalam kamar mandi beruap. Untuk memompa uap, nyalakan air pancuran yang sangat panas dan letakkan kursi di luar pancuran untuk menyusui.
  • Badan POM Amerika Serikat (FDA) dan American Academy of Pediatrics sangat menyarankan agar anak usia di bawah enam tahun tidak diberikan obat batuk pilek yang dijual bebas dengan alasan resiko efek samping yang serius dan mengancam nyawa. Selain itu tidak ada bukti bahwa obat pilek yang dijual bebas benar-benar memberikan manfaat bagi anak berusia di bawah enam tahun. Ada beberapa penelitian terkontrol yang baik yang menunjukkan tidak terdapat perbedaa antara anak yang mendapat obat dan yang tidak.

Kadang para ibu dianjurkan untuk membatasi atau berhenti menyusui karena ASI meningkatkan produksi ingus. Itu bukanlah saran yang baik dengan dua alasan:

  1. Anda bukan sapi dan susu Anda bukan produk susu sapi. Jadi bahkan jika susu sapi bermasalah, ASI Anda tidak akan.
  2. Selain itu, tidak ada bukti ilmiah bahwa susu sapi mengakibatkan produksi ingus/lender lebih banyak kecuali Anda alergi terhadap produk susu sapi.

Bayi menolak menyusu ketika sakit

Beberapa bayi mungkin menolak disusui ketika sakit (terutama jika penyakit seperti sakit tenggorokan atau tekanan dari infeksi telinga membuat proses menyusui menyakitkan bagi bayi). Jika hal ini terjadi, coba posisi menyusui yang berbeda – khususnya posisi di mana bayi tegak – dan terus tawarkan untuk menyusu setidaknya setiap jam atau lebih. Yakinlah bahwa bayi Anda akan kembali menyusu ketika ia merasa lebih baik. Berikut adalah beberapa hal untuk dicoba jika bayi sangat tidak nyaman untuk menyusu:

  • Berikan bayi ASI perah melalui gelas, alat tetes, atau sendok.
  • Coba  momsicle, atau bekukan ASI hingga setengah beku setengah cair dan suapi bayi dengan menggunakan sendok.
  • Untuk bayi yang lebih besar (lebih dari enam bulan) yang sudah mendapat MPASI: jika bayi mau makan tetapi tidak mau menyusu, tambahkan ASI yang banyak pada makanan. Anda dapat pula mencoba membuat yogurt dari ASI.

Muntah dan diare

Saat lainnya ketika ibu bisa merasa tidak yakin apakah harus terus menyusui adalah ketika bayi mengalami diare atau muntah. BAB cair dan sering pada bayi ASI tidak  harus selalu diare. Diare pada bayi ASI didiagnosis ketika bayi telah BAB sebanyak 12-16 kali per hari (atau lebih sering daripada frekuensi BAB bayi biasanya), tinja encer, dan baunya busuk. Hanya satu dari gejala-gejala ini tidak berarti bayi mengalami diare.

Rekomendasi saat ini ketika muntah atau diare terjadi pada bayi ASI adalah sebagai berikut:

  • Menyusui harus menjadi pilihan pertama jika anak Anda dapat minum. Karena mudahnya dan cepatnya ASI dicerna, bahkan jika anak Anda muntah atau BAB segera setelah menyusu, ia masih mempertahankan beberapa nutrisi pada ASI. Makanan lain yang sering disarankan (seperti Pedialyte, minuman olahraga, gelatin dan soda) memberikan sedikit nilai gizi dan tidak ada antibodi yang terkandung dalam ASI.
  • Bila anak Anda sakit Anda akan menawarkan menyusu lebih sering – ini dapat membatasi volume yang diambil dalam satu waktu dan membantu untuk menyamankan dan menenangkan bayi yang sedang sakit. Jika anak Anda sering muntah dan susu tidak tertahan di dalam untuk waktu cukup lama, susui sering tetapi batasi lamanya setiap sesi menyusui (sehingga susu yang masuk tiap kali lebih sedikit). Pilihan lainnya adalah ibu memerah ASI sebelum menyusui sehingga aliran susu lebih lambat. JARANG terjadi bayi yang diperbolehkan untuk menyusu semaunya selama muntah atau diare mengalami dehidrasi.

Penggunaan terapi rehidrasi (penggantian cairan) oral seperti Pedialyte merupakan rekomendasi yang cukup baik untuk bayi yang mendapat susu formula yang muntah atau diare, tetapi menggunakan cairan ini sebagai pengganti ASI tidak bermanfaat bagi bayi ASI. ASI adalah cairan alami, tidak seperti susu formula dan produk lain, ASI mudah dan cepat dicerna.

Pedialyte tidak perlu selama bayi terus menyusu dengan baik dan selama tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Jika bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, hubungi dokter Anda. Berikut adalah tanda-tanda dehidrasi:

• kurang dari 2 popok basah dalam jangka waktu 24 jam
• bayi tidak berperilaku normal (lebih mudah marah, kurang aktif, tidur melulu)
• lesu/letargi
• menangis lemah
• tidak ada air mata (pada bayi yang lebih dari 3 bulan)
• mulut kering
• kulit keriput yang tetap tampak ketika dicubit (tarik kulit di bagian depan tangan, harus dengan mudah kembali seperti semula – tidak tetap dalam kondisi setelah dicubit atau tampak keriput)
• mata tampak cekung
• kaki-tangan lembab dan dingin, terutama jari-jari
• pernapasan cepat, atau jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya
• demam

Bayi yang diperbolehkan untuk terus menyusu selama mengalami penyakit seperti ini cenderung tidak mengalami dehidrasi daripada mereka yang dijauhkan dari ASI. Terus menyusui juga memberikan anak Anda antibodi berharga yang akan mencegah penyakit dari kondisi memburuk dan mempercepat penyembuhan. Menyusu juga sangat nyaman untuk anak Anda.

Bayi ASI kadang-kadang membutuhkan terapi rehidrasi oral (Pedialyte, dll), meskipun jauh lebih jarang daripada makan bayi yang diberi susu formula. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan terus menyusui selama dan setelah terapi rehidrasi oral. Penelitian menunjukkan bahwa bayi kehilangan berat badan lebih banyak dan sebenarnya BAB lebih banyak selama diare ketika mereka dijauhkan dari ASI. Kadang-kadang ibu dianjurkan untuk menahan ASI “karena merupakan produk susu.” ASI TIDAK dianggap sebagai susu sapi atau produk susu sapi (ibu bukan sapi!).

Setiap kali diare timbul (pada orang dewasa maupun bayi), hal itu dapat berlangsung untuk sementara waktu agar usus dapat sembuh dan tinja kembali normal. Jadi bahkan jika Anda telah mengidentifikasi masalah dan mengambil tindakan korektif, Anda mungkin tidak melihat hasil yang diinginkan selama beberapa minggu. Hal ini karena jika usus mengalami iritasi lebih sulit bagi usus untuk mencerna laktosa – laktosa belum tercerna kemudian menimbulkan iritasi lebih banyak dan tinja menjadi encer. Hal itu terkadang sulit bagi usus untuk memperbaiki diri . Biasanya terdapat respon inflamasi pada diare – yang butuh waktu untuk sembuh. Ketika penyebab masalah telah teratasi (ketika bayi sembuh dari penyakit), usus akan sembuh bahkan jika bayi masih diberi ASI.

ASI vs oralit

Ketika bayi sakit, ibu kadang-kadang diminta untuk menghentikan atau membatasi menyusui dan menggantinya dengan terapi rehidrasi oral seperti oralit / pedialit. Praktek lama seperti ini telah terbukti tidak memberikan manfaat bagi bayi yang diberi ASI, dan bahkan dapat menunda penyembuhan.

Susu Anda memiliki empat hal yang dibutuhkan bayi Anda lebih dari biasanya ketika ia sakit:

  1. Antibodi untuk melawan penyakit ini – Anda tentu ingin bayi Anda mendapatkan sebanyak mungkin antibodi ini. Dorong bayi Anda untuk menyusu lebih banyak. Pedialyte tidak memiliki antibodi.
  2. Cairan untuk menjaga bayi cukup cairan. Bayi Anda mungkin tidak makan sebanyak biasanya karena ia tidak merasa sehat. Bayi sakit lebih mungkin untuk menyusu daripada minum/makan apa pun melalui mulut, sehingga menyusui penting untuk menjaga bayi cukup cairan. Menjaga bayi cukup cairan juga membantu menjaga keluarnya ingus lebih encer jika bayi mengalami hidung tersumbat atau pilek. Jadi sekali lagi, Anda harus lebih banyak menyusui. Pedialyte akan membuat bayi tetap tercukupi cairannya,  begitu juga ASI.
  3. Konsentrat nutrisi. ASI mudah dan cepat dicerna, sehingga bayi mendapat nutrisi lebih banyak dan lebih cepat menyerap zat gizi. Pedialyte akan membuat bayi cukup cairan tetapi memiliki nilai gizi sedikit. Sekali lagi, yang terbaik adalah dengan menyusui lebih karena bayi mungkin tidak makan sebanyak biasanya jika ia merasa sakit.
  4. Kenyamanan. Bayi sakit memerlukan lebih banyak rasa nyaman – cara apa yang lebih baik untuk memberikan kenyaman tersebut selain di payudara ibunya?

Kuning pada bayi

Haruskah seorang ibu tetap menyusui ketika anaknya kuning?

Sekitar 60% bayi cukup bulan mengalami kuning dalam beberapa hari setelah lahir. Jaundice (ikterus), atau kuning pada kulit dan mata, terjadi bila suatu zat yang normal, bilirubin, terbentuk dalam aliran darah bayi yang baru lahir lebih cepat daripada hati dapat menghancurkan dan mengeluarkannya melalui tinja bayi. Dengan menyusui lebih sering atau untuk waktu yang lama, tubuh bayi biasanya dapat menghindarkan diri dari kelebihan bilirubin. Namun, dalam beberapa kasus, bayi mungkin perlu perawatan tambahan untuk menjaga agar tidak berkembang menjadi hiperbilirubinemia yang lebih berat, ensefalopati bilirubin, atau kernikterus.

Kuning akibat menyusu (breastfeeding jaundice) dapat terjadi pada minggu pertama kehidupan pada lebih dari 1 dari 10 bayi ASI. Penyebabnya diduga akibat asupan susu tidak memadai, menyebabkan dehidrasi atau asupan kalori rendah. Ini adalah jenis kuning fisiologis atau  fisiologis berlebihan.

Kuning akibat ASI (breastmilk jaundice) lebih jarang terjadi dan timbul pada sekitar 1 dari 200 bayi. Pada kondisi ini biasanya kuning tidak terlihat sampai bayi berusia seminggu. Kuning ini sering mencapai puncaknya pada minggu kedua atau ketiga. Breastmilk jaundice dapat disebabkan oleh zat dalam susu ibu yang mengurangi kemampuan hati bayi untuk menangani bilirubin. Kuning akibat ASI jarang menyebabkan masalah, baik ditangani maupun tidak. Biasanya kondisi ini bukan alasan untuk berhenti menyusui.

Pada bulan Juli 2004, American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan panduan yang ditujukan untuk mengurangi terjadinya kondisi yang lebih parah namun dapat dicegah. Menurut Sub-komite hiperbilirubinemia AAP, untuk setiap bayi lahir pada kehamilan 35 minggu atau lebih, praktisi kesehatan harus mempromosikan dan mendukung keberhasilan menyusui:

“Rekomendasi 1.0: dokter harus menganjurkan ibu untuk menyusui bayi mereka paling sedikit 8 sampai 12 kali per hari selama beberapa hari pertama.”

“Rekomendasi 1.1: AAP tidak merekomendasikan suplementasi rutin terhadap bayi ASI yang tidak dehidrasi dengan air atau air dekstrosa [gula].”  (VE)

Informasi lebih lanjut:

  • American Academy of Pediatrics Clinical Practice Guideline on the Management of Hyperbilirubinemia, read Pediatrics July 2004, 114(1):297-316..
  • CDC’s National Center for Birth Defects and Developmental Disabilities, Kernicterus
  • National Library of Medicine, Newborn Jaundice

Sumber : www.kellymom.com, www.cdc.gov

Share artikel ini: