Apendisitis (radang usus buntu) memerlukan penanganan medis segera. Maka amat penting untuk mengetahui gejala-gejala klinis dan cara membedakannya dengan masalah dalam rongga perut lainnya.

Gejala yang pertama kali muncul biasanya adalah demam ringan dan sakit di sekitar pusar. Rasa sakit biasanya memburuk dan berpindah ke bagian kanan bawah dari pusar. Gejala lainnya yang muncul adalah muntah, mual dan nafsu makan hilang.

Segera hubungi dokter bila gejala-gejala tersebut muncul agar segera ditangani. Makin cepat terdeteksi, makin mudah penanganannya

Apa itu radang usus buntu dan apa penyebabnya?

Usus buntu adalah organ seukuran jari kelingking yang melekat pada usus besar di bagian kanan bawah rongga perut. Bagian dalam usus buntu membentuk jalan buntu yang biasanya terbuka menuju ke usus besar.

Jika usus buntu tersumbat, akan terjadi radang dan bakteri dapat tumbuh sangat banyak. Sumbatan dapat disebabkan oleh kotoran yang menyerupai batu keras (disebut fecolith), radang kelenjar getah bening pada usus, atau bahkan infeksi oleh parasit.

Bila usus buntu yang terinfeksi tidak disingkirkan, usus buntu dapat pecah dan menyebarkan bakteri dalam rongga perut.

Radang usus buntu umumnya terjadi pada anak-anak dan remaja berusia antara 10 sampai 20 tahun, dan sangat jarang terjadi pada bayi. Kejadian ini menjadi salah satu alasan yang mengharuskan dlakukan operasi darurat rongga perut. Radang usus buntu tidak menular.

Apa tanda-tanda dan gejala radang usus buntu?

Segera hubungi dokter bila muncul gejala-gejala apendisitis, antara lain:

– Bagian perut terasa sakit sekali, terutama di sekitar pusar atau pada bagian kanan bawah perut (rasa sakit dapat datang dan pergi lalu semakin sering terasa dan lebih sakit dari awalnya). Sensasi sakitnya kombinasi tekanan dan rasa penuh pada perut.

– Demam ringan

– Nafsu makan menghilang

– Konstipasi/sembelit

– Mual dan muntah

– Diare (terutama bila tidak banyak volume diarenya dan disertai lendir)

– Perut bengkak atau kembung, terutama pada bayi

– Jumlah sel darah putih meningkat

Apakah radang usus buntu bisa dicegah?

Tidak ada cara untuk mencegah radang usus buntu, tapi dengan uji diagnosa dan antibiotik yang tepat, banyak kasus berhasil diidentifikasi dan dirawat tanpa komplikasi lanjut.

Pada remaja sebaiknya disarankan untuk melakukan beberapa acuan dasar untuk menjaga saluran pencernaan, antara lain:

– Makan secara teratur

– Minum banyak air (paling sedikit delapan gelas air atau cairan lain setiap  harinya)

– Aktif melakukan kegiatan fisik

– Mengunyah seluruh makanan perlahan sebelum menelannya

– Jangan merokok, rokok dapat menyebabkan luka pada lambung

– Dengarkan tubuhmu. Jangan menahan dorongan untuk buang air besar.

– Cobalah untuk tidak mengejan saat buang air besar.

Apabila apendisitis tidak diobati, usus buntu yang meradang dapat pecah dalam 24 sampai 72 jam setelah gejala muncul. Bila usus buntu pecah, sakitnya akan terasa hingga ke seluruh rongga perut dan akan mengalami demam sangat tinggi , hingga 40°C.

Gejala-gejala radang usus buntu dapat bervariasi sesuai dengan umur anak. Pada anak usia 2 tahun atau lebih muda, gejala yang paling sering muncul adalah muntah dan perut kembung atau bengkak, disertai dengan sakit.

Bila Anda curiga anak mengalami radang usus buntu, segera hubungi dokter secepatnya dan jangan berikan obat anti nyeri atau apapun untuk dimakan atau diminum, kecuali diinstruksikan oleh dokter.

Diagnosa

Gejala-gejala radang usus buntu dapat sangat mirip dengan gejala penyakit lainnya (seperti batu ginjal, pnemonia, atau bahkan infeksi saluran kemih), sehingga penegakan diagnosanya cukup menantang bagi para dokter.

Untuk memastikan atau menyingkirkan diagnosa apendisitis, seorang dokter akan  akan melakukan pemeriksaan fisik ditambah satu atau beberapa prosedur berikut:

– Hitung sel darah putih

– Uji urine, untuk menyingkirkan dugaan infeksi saluran kemih

– Ultrasound

– Pemeriksaan usus bagian bawah dengan enema barium

– CT scan

– Pemeriksaan dengan laparoskopi

Bagaimana perawatan dan pengobatannya?

Radang usus buntu diatasi dengan menyingkirkan usus buntu yang meradang melalui apendektomi (bedah usus buntu). Dokter bedah biasanya melakukan irisan pada rongga perut atau menggunakan alat bedah kecil (laparoskop)untuk membuat irisan yang lebih kecil dari metode biasa. Bedah usus buntu umumnya membutuhkan rawat inap di rumah sakit selama 2 hingga 3 hari.

Sebelum dan sesudah operasi,  cairan intravena dan antibiotik akan membantu mencegah komplikasi dan menurunkan risiko infeksi sesudah operasi. Bila diperlukan, anak-anak akan memperoleh obat pereda nyeri.

Usus buntu terinfeksi yang pecah juga akan diatasi dengan cara operasi tapi akan memerlukan rawat inap yang lebih lama di rumah sakit supaya cukup waktu pemberian antibiotik untuk membunuh semua bakteri yang telah menyebar dalam tubuh. (Sylvi)

Sumber :

1. Kidshealth

2. Healthychildren

Share artikel ini: