Batuk dapat menjadi gejala yang cukup menimbulkan stress di kuatirkan oleh orang tua. Apabila anak anda telah terserang batuk, anak anda akan terjaga sepanjang malam, dan orang tua pun akan mengalami hal yang sama untuk menemani anak. Penting untuk menjelaskan kepada orang tua, bahwa gejala batuk merupakan suatu reaksi perlindungan terhadap saluran pernapasan. Dengan batuk, maka akan membersihkan saluran pernapasan yang dalam keadaan tidak bersih, dan tujuannya adalah untuk mempertahankan paten dan fungsi dari saluran pernapasan itu sendiri.

Di dunia kedokteran, terdapat dua jenis obat batuk, narkotik dan non-narkotik. Untuk obat batuk jenis ini, biasanya mengandung kodein atau hidrokodein, dimana bahan tersebut akan menekan reflex batuk langsung ke pusat batuk, yang terdapat di batang otak. Jenis narkotik, tidak menekan batuk secara sempurna, bahkan untuk orang dewasa memiliki efek samping yang cukup serius, terutama jika keadaan overdosis. Efek sampingnya meliputi: penurunan fungsi pernapasan, dimana dapat menimbulkan henti napas, mual, muntah, konstipasi (susah buang air besar), pusing, dan jantung berdebar-debar.

Jenis yang lain dari obat batuk, adalah non-narkotik, Dextrometorphan, merupakan lawan dari narkotik. Pada orang dewasa, bahan ini dapat menekan batuk, sama seperti kodein, namun juga berpotensi menimbulkan penurunan fungsi pernapasan jika terjadi overdosis. Penelitian pada anak-anak yang diberikan obat ini, tidak menunjukan keuntungan apa-apa, baik yang bersifat narkotik maupun non-narkotik. The American Academy of Pediatrics Committee on Drugs pada tahun 1997 mnyimpulkan  bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai dosis, factor keamanan dan efektifitas obat tersebut apabila akan diberikan kepada anak, baik jenis narkotik maupun non-narkotik. Lebih lanjut di jelaskan, “Education patients and parents about lack of these proven is needed”.  Obat batuj seharusnya digunakan secara hati-hati terutama pada anak yang memiliki masalah asma, karena obat ini akan mempersulit anak untuk mengluarkan dahak. Suatu penelitian pada tahun 2002 oleh Cochrace, menyimpulkan bahwa tidak ada bukti efektivitas dari obat simptomatik, terutama OTC (over-the-counter) terhadap gangguan batuk yang akut.

Dextrometorphan

Walaupun secara struktur kimia, obat ini berhubungan dengan morfin dan kodein, namun efek penahan nyeri tidak dimiliki oleh bahan kimia ini. Seperti kodein, Dextrometorphan akan bekerja langsung ke pusat batuk di bagian otak, untuk meningkatkan ambang respon dari batuk. Untuk dosis yang aman ,

Dextrometorphan lebih cepat di serap dalam saluran pencernaan. Efek menekan reflex batuk, akan terasa selama 6 jam. Seperti kodein, obat ini di metabolisme atau di olah di hepar/liver dan di keluarkan melalui air seni.

Dua penelitian yang dilakukan, menunjukan adanya kontroversi efek dari obat ini terhadap orang dewasa. Tukainen dkk., terhadap 108 orang dewasa, didapatkan penurunan frekuensi batuk terutama pada malam hari. Sementara Thackray, menemukan kombinasi obat Dextrometorphan, ditambah decongestan (obat batuk berdahak) dan antihistamin tidak memiliki efek terhadap batuk, pada 70 orang dewasa. Tiga penelitian pernah di lakukan untuk melihat reaksi Dextrometorphan terhadap anak, dan kembali memberikan hasil yang berlawanan. Percobaan pertama dilakukan dengan memberikan Dextrometorphan saja, dan tidak menemukan efek perbaikan.  Sementara dua percobaan yang lain menggunakan Dextrometorphan dengan bahan yang lain, menemukan adanya penurunan batuk dan gerjala-gejala gangguan pada hidung. Namun, tidak jelas, bahan apa yang memiliki efek ini.

Efek samping Dextrometorphan

Efek yang kurang nyaman dari obat ini adalah munculnya perasaan berputar dan gangguan pencernaan. Seperti kodein, obat ini dapat menyebabkan keluarnya histamine, pada beberapa orang yang sensitive terhadap bahan tersebut. Efek toksik umumnya rendah. Bagaimanapun, pada dosis yang tinggi, Dextrometorphan akan menyebabkan depresi atau penurunan system saraf pusat di otak. Dua laporan mengenai keracunan Dextrometorphan pada anak-anak, mengambarkan gejala ataxia, nistagmus (gangguan keseimbangan pada mata), dan gangguan pada tingkat kesadaran.

Kesimpulan

Dextrometorphan tampak memiliki efek toksik yang agak serius. Bukti akan efektivitas, masih bertantangan dalam beberapa percobaan. Pada penelitian dimana muncul penekanan batuk, efek tersebut tidak di tandai. Satu-satunya kelebihan dari Dextrometorphan tunggal tanpa kombinasi adalah tidak memiliki efek menyembuhkan pada anak-anak. Dengan bukti adanya efek yang berlawanan, maka tidak ada rekomendasi yang jelas terhadap penggunaan Dextrometorphan dalam mengatasi gangguan batuk. Mungkin saja terdapat percobaan terhadap efek obat Dextrometorphan yang digunakan pada keadaan yang berbeda, dimana terdapat gangguan batuk yang memanjang dalam kondisi saat menyusui atau tidur. (OL)

Sumber : WHO, AAP, Cochrane

Share artikel ini: