Obat-obatan ini memblok reseptor H1 pada pembuluh darah hidung dan bersaing dengan histamin untuk menempati reseptor. Antihistamin generasi pertama umumnya diphenhydramine, hydroxyzine, chlorpheniramine, brompheniramine, dan clemastine, menembus batas antara darah dan otak dan mempengaruhi sistem saraf pusat. Promethazine merupakan suatu tipe fentotiazin dari antihistamin yang biasanya dikombinasi dengan penekan batuk. Antihistamin generasi pertama juga memiliki sifat antikolinergik. Karena histamine bukanlah mediator peradangan pada selesma (common cold), efek antihistamin diyakini disebabkan oleh sifat antikolinergik yang membuat lapisan lendir menjadi kering. Antihistamin generasi kedua meliputi terfenadine,astemizole, loratadine, dan cetirizine.  Karena tidak jauh menembus batas antara darah dan otak, obat-obatan tersebut lebih sedikit menyebabkan efek pada sistem saraf pusat. Obat-obatan tersebut tidak memiliki sifat antikolinergik dan memiliki sedikit efek mengeringkan.  Maka dari itu, obat-obatan ini tidak seefektif antihistamin generasi pertama untuk gejala-gejala pada hidung saat selesma.

Antihistamin generasi pertama sebaiknya digunakan dengan waspada pada anak yang memiliki asma karena mengentalkan lendir sehingga lebih sulit dibersihkan. Suatu artikel di Cochrane Database of Systematic Reviews berjudul “Antihistamines for the Common Cold” merangkum bukti pada efektivitas antihistamin dalam meredakan gejala-gejala pilek. Pada umumnya, antihistamin sendiri pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa secara klinis tidak memberikan manfaat yang signifikan. Pada anak kecil, tidak ada bukti bahwa antihistamin memiliki manfaat selain menyebabkan kantuk.

Efek samping antihistamin

Promethazine, antihistamin jenis fenotiazin yang digunakan secara luas karena sifat antimuntah dan penenang yang dimilikinya, telah dilaporkan menyebabkan agitasi, halusinasi, kejang, reaksi distonik, sudden infant death syndrome, dan henti napas. Efek samping ini umumnya lebih berat dan signifikan pada bayi, sehingga pabrik pembuatnya memperingatkan agar tidak diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun. Namun, efektivitas promethazine sebagai sedatif (penenang) dapat disalahgunakan oleh orang tua untuk menangani  anak yang berteriak-teriak. Antihistamin generasi kedua mempunyai efek samping antikolinergik lebih sedikit dan dianggap tidak menimbulkan efek sedatif pada anak dalam dosis terapi.

Kesimpulan

Antihistamin oral dapat meredakan gejala bersin dan ingus pada dewasa dengan selesma, meskipun hasil penelitian masih bertentangan.  Namun, efek penenang dan potensi untuk keracunan dan efektivitas yang belum pasti menjadikan antihistamin obat yang tidak sesuai untuk pilek pada anak kecil. Antihistamin tidak efektif dalam meredakan gejala hidung tersumbat atau batuk. Antihistamin generasi kedua mempunyai efek samping antikolinergik lebih sedikit, tetapi tidak menambah efektivitas; tentu bukti yang cenderung menunjukkan hal sebaliknya mungkin saja benar. (VE)

Sumber : AAP-WHO

Share artikel ini: