Di Lapangan:

“Halo bun, anak saya usia 5 tahun pernah kena flek di usia 6 bulan. Sudah minum obat antiflek selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh. Tapi belakangan ini, dia sering batuk. Sembuh-kambuh-sembuh-kambuh. Ke dokter diberi puyer, antibiotik, dan H******* (cetirizin HCl). Saya baca-baca cetirizin itu obat alergi. Kira-kira amankah untuk balita saya?”

De Rhetorica

  • Cetirizin merupakan salah satu jenis antihistamin H1 yang banyak digunakan. Salah satu penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa antihistamin yang terkandung dalam berbagai obat batuk/pilek anak merupakan obat yang sering dikonsumsi anak di bawah usia 12 tahun.
  • Histamin merupakan molekul yang normal berada di dalam tubuh dan berperan dalam berbagai reaksi melalui aktivasi reseptor histamin H1, H2, H3, atau H4. Reseptor yang berperan utama dalam reaksi alergi adalah reseptor H1. Cetirizin bekerja dengan menghambat ikatan histamin dengan reseptor H1.
  • Antihistamin H1 terdiri dari dua generasi. Cetirizin merupakan anthistamin H1 generasi kedua yang berarti efek samping pada susunan saraf pusat (terutama efek samping mengantuk) lebih kecil dibandingkan antihistamin H1 generasi pertama.
  • Contoh antihistamin H1 generasi kedua: loratadin, fexofenadine, desloratadin, dan levocetirizin. Sedangkan contoh antihistamin H1 generasi pertama: klorfeniramin maleat (CTM), difenhidramin, dimenhidrinat, dan hidroksizin.
  • Efek samping: minimal. Dapat berupa: mengantuk, sakit kepala, mulut kering, diare, dan pusing.
  • Keamanan pada ibu hamil: cetirizin tidak meningkatkan risiko teratogenisitas pada janin (obat kelas B). Namun konsumsi pada ibu menyusui tidak direkomendasikan karena cetirizin diekskresikan ke air susu.
  • Berbagai penelitian menunjukkan manfaat dan keamanan pemakaian antihistamin H1:
    • Antihistamin H1 yang paling efektif mengurangi gejala pada rhinitis alergi akut adalah levocetirizin.
    • Semua antihistamin generasi kedua efektif untuk terapi urtikaria kronik dengan efek samping yang minimal.
    • Penggunaan antihistamin generasi kedua untuk rinitis alergi dan urtikaria kronik dalam jangka waktu yang lama relatif aman dengan efek samping yang minimal.
    • Manfaat antihistamin pada anak dengan batuk kronik tidak jelas.
    • Antihistamin tidak terbukti bermanfaat pada anak dengan sinusitis akut.
    • Antihistamin (difenhidramin) tidak bermanfaat sebagai terapi simtomatik pada batuk pertusis.
    • Kombinasi analgesik-dekongestan-antihistamin tidak terbukti bermanfaat pada anak dengan selesma (common cold).

Referensi

  1. Vernacchio L, dkk. Pediatrics. 2009; 124: 446-54.
  2. Brunton LL, dkk. Goodman & Gilman’s Manual of Pharmacology and Therapeutics. 2008
  3. Mosqes R, dkk. Allerqol Int. 2013;62:2015-22.
  4. Kavosh ER, dkk. Am J Clin Dermatol. 2011;12:361-76
  5. Shaikh N, dkk. Wald ER, Pi M. Cochrane Database Syst Rev. 2012;9:CD007909.
  6. Bettiol S, dkk. Cochrane Database Syst Rev. 2008;(4):CD003257.
  7. Yanal K, dkk. Curr Med Res Opin. 2012;28:623-42
  8. De Sutter AI, dkk. Cochrane Database Syst Rev. 2012 Feb 15;2:CD004976. doi: 10.1002/14651858.CD004976.pub3.

Etwel F, dkk. J Obstet Gynaecol. 2014; 34(5): 392-9

Share artikel ini: