Kriteria diagnostik:

  1. Anak menolak makan. Anak tidak makan dengan cukup dalam kurun waktu setidaknya satu bulan.
  2. Gangguan makan muncul biasanya pada periode transisi antara disuapi dengan makan sendiri (usia 6 bulan – 3 tahun).
  3. Anak hampir tidak pernah kelihatan lapar, mengeluh lapar atau menunjukkan ketertarikan terhadap makanan. Anak lebih semangat untuk bergerak, bermain dan berbicara daripada makan.
  4. Anak menunjukkan perlambatan pertumbuhan menurut kriteria Waterlow (adanya penurunan dua persentil mayor pada kurva pertumbuhan selama periode 2-6 bulan).
  5. Penolakan makanan tidak berkaitan dengan peristiwa traumatik pada daerah saluran cerna.
  6. Tidak ada penyakit dasar yang menyebabkan anak menolak makan.

Gejala yang sering dikeluhkan orangtua:

–          Anak sangat sulit membuka mulut untuk makan dengan bujukan apapun.

–          Anak sangat mudah terganggu saat makan, misalnya saat mendengar bunyi telepon atau berganti posisi, anak dapat langsung teralihkan perhatiannya kemudian menolak melanjutkan makan lagi.

–          Ibu mengeluh bahwa semua hal sudah dicoba seperti berbagai variasi makanan, berbgai tekstur, berbagai resep namun tidak satupun yang berhasil menggugak selera makan anak.

–          Pengasuh mengeluhkan sulitnya membujuk anak makan, kadang sambal bermain, menonton tv, berkeliling taman hanya demi sesuap nasi.

Pada umumnya anak-anak yang mengalami anoreksia infantile memiliki karakteristik berikut:

  1. Anak yang temperamental, sulit dikontrol, sangat bergantung kepada ibu.
  2. Anak sangat semangat bermain, tidak pernah tampak lelah. Mudah terstimulasi.
  3. Anak merasa tidak aman, sangat bergantung kepada ibu. Anak dapat mengalami kecemasan yang berlebihan jika berpisah dengan ibunya.
  4. Anak memiliki kemampuan kognitif yang baik. Tidak adanya gangguan mental atau intelengensia.

Pada umumnya orangtua dengan anak yang mengalami anoreksi infantile memiliki karateristik berikut:

–          Tidak sabar

–          Memiliki kemampuan parenting yang buruk

–          Lekas marah

–          Memaksa anak

–          Sering mengalami konflik dengan anak

–          Orangtua juga mengalami gangguan psikologis

TERAPI

Orangtua dan pengasuh harus menyepakati satu aturan yang berlaku sehingga tidak membingungkan anak. Tujuan dari terapi ini adalah mengajari anak merespon rasa lapar dan kenyang.

  1. Jarak makan 3-4 jam dan jangan berikan cemilan atau makanan apapun (termasuk susu dan jus) di antaranya. Jika anak haus, berikanlah air putih.
  2. Berikanlah makan dalam porsi mini, setelah habis dapat ditambahkan sedikit demi sedikit selama makan. Menghidangkan makanan dalam jumlah banyak membuat anak langsung kenyang.
  3. Anak dibujuk untuk tetap duduk di kursi makannya sampai ayah/ibunya selesai makan. Tantangannya adalah ana ksering kali memanjat kursi dan ingin keluar atau berterian menangis tidak ingin duduk di kursi makannya. Anak dapat diberikan mainan kesukaannya saat duduk di kursi tetapi ketika ia tenang dan proses makan dimulai, mainan harus dipindahkan. Biasanya anak akan makan lagi saat ia menunggu dan menonton orangtuanya yang belum selesai makan.
  4. Waktu makan jangan melebihi 30 menit. Anak dengan anoreksia infantile biasanya sangat lambat saat makan. Orangtua sering memperpanjang waktu makan sampai 1-2 jam dengan harapan anaknya menyuap lebih banyak lagi. Hal ini tidak perlu dilakukan, karena saat anak merasa masih lapar, ia akan meningkatkan kecepatan makannya. Jangan lupa mengkomunikasikan rasa “kenyang” sehinga ia mengerti bahwa makan bertujuan supaya kenyang.
  5. Jangan berikan pujian atau kritikan mengenai jumlah yang anak makan. Anak memiliki keputusan kapan harus berhenti makan sesuai dengan rasa kenyangnya. Pujilah atas proses makannya bukan jumlahnya. Misalnya “anak pintar sudah bisa pakai sendok sendiri”
  6. Jangan ada mainan atau nonton televisi saat makan. Kebanyakan orangtua mencari mainan atau menonton televisi yang dapat mengalihkan konsentrasi anak sehingga anak tidak sadar bahwa dirinya sedang disuapi. Hal tersebut malah mengganggu proses pengenalan rasa lapar dan kenyang yang merupakan tujuan dari terapi ini. Biarkan anak fokus terhadap proses makan dan berhenti disaat ia kenyang.
  7. Jangan gunakan makanan sebagai hadiah atau ungkapan perasaan. Coklat, permen, kue manis seringkali menjadi bujukan / hadiah jika anak menuruti keinginan orangtua. Padahal makanan tersebut merupakan jenis makanan yang tidak sehat.
  8. Cegah anak untuk melempat dan membuang makanan. Anak tidak boleh bermain-main dengan makanannya. Jika anak melempar sendoknya, berikan sendok baru dan ajari anak makan sendiri. Anak yang tidak dapat dibujuk dan mengamuk dapat diberlakukan “time out”
  9. Berikan anak waktu bermain dan bercerita dengan anda di luar jam makan. Terlalu banyak mengajak anak bicara saat makan, membuat anak tidak fokus terhadap makanan. Anak diajak membedakan antara waktu bermain dan waktu makan.

Prosedur “time-out”

Anak dengan anoreksia infantil pada umumnya memiliki temperamen yang buruk, suit ditenangkan dan tidak bisa mengatasi emosinya sendiri. Ia bergantung pada orangtua / pengasuh untuk membujuknya. Saat anak mengamuk, berikan satu kali tanda peringatan. Jika ia mengacuhkan tanda peringatan tersebut maka berlakukanlah time out. Time out adalah saat anak diberikan waktu sendiri untuk mengendalikan emosinya (self-calming). Berikut adalah aturan yang dapat dipakai:

  1. Saat anak anda mengamuk dan bertingkah diluar batas, berikan ia satu peringatan.
  2. Jika anak tidak mau mendengarkan, berikan dia “time-out”.  Letakkan anak pada tempat yang aman, sendirian, dan tidak dapat melihat anda.
  3. Jika anak anda menangis dan menjerit, tunggulah sampai ia tenang sendiri. Jangan berinteraksi dengan anak saat ia sedang berteriak atau mengamuk. Ketika anda meladeni anak di saat anak makin mengamuk, maka ia akan mengulanginya di kemudian hari karena ia menyimpulkan semakin keras ia mengamuk maka semakin mungkin anda meladeninya. Waktu time out dimulai saat anak sudah tenang.
  4. Saat anak sudah tenang, datangi anak dan katakan kepadanya anda mengerti bahwa sulit untuk menenangkan diri sendiri. Pujilah anak karena ia mampu menenangkan dirinya sendiri. Katakana padanya bahwa saat ini waktunya dia berpikir mengapa dia salah.
  5. Pasanglah alarm sekitar 1 menit (dan ditambah 1 menit sesuai dengan usia anak). Katakana padanya bahwa anda akan kembali saat alarm berbunyi.
  6. Saat alarm berbunyi, kembalilah kepada anak dan pujilah dia karena berhasil tenang.
  7. Kembalikan anak ke posisi dimana ia mengamuk dan berilah kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Misalnya ia melempar makanan, sendok dan piring saat makan. Kembalikan anak diposisi itu dan berikan ia kempatan melakukan hal yang benar.
  8. Jika anak anda melakukannya lagi, maka berikan ia time out lagi sampai ia mematuhi aturan yang anda buat.

Hal penting:

–          Jangan menggendong anak saat ia menangis ketika menjalani rosedur time out.

–          Ulangi time out sampai ia mematuhi anda, jangan menghentikan time out sebelum tujuan tercapai.

–          Pastikan anda menang dalam prosedur ini.

–          Jelaskan prosedur time out saat anak dalam keadaan tenang dan sebelum prosedur time out anda berlakukan.

Disarikan oleh Windhi Kresnawati

Sumber:

Infantile anorexia. Irene Chatoor. National center for infants, toddlers, and families. Washington DC. 2009

Share artikel ini: