Anemia merupakan keadaan dimana hemoglobin di bawah normal. Nilai hemoglobin berubah sesuai dengan umur anak, sehingga penting sekali untuk melihat nilai hemoglobin sesuai dengan kategori umur anak. Sehingga kita jangan membandingkan nilai hemoglobin anak dengan ukuran dewasa, karena seringkali di laboratorium yang digunakan adalah standar dewasa.

Penyebab

Ketika seseorang dinyatakan anemia, maka penyebabnya harus dicari. Penyebab anemia tersering di dunia adalah anemia defisiensi zat besi (ADB) yang disebabkan kekurangan nutrisi.

Menurut laporan WHO tahun 1993-2005, sebanyak 50% penyebab anemia adalah defisiensi zat besi. Dalam laporan tersebut dinyatakan 85.1% anak pra sekolah (usia 0-<5 tahun) mengalami anemia. Bayi yang mendapat ASI eksklusif rentan mengalami defisiensi zat besi apalagi jika setelah usia 6 bulan kecukupan zat besi tidak dapat terpenuhi. Oleh karena itu protein hewani yang kaya zat besi harus diberikan sejak awal MPASI.

Anemia menimbulkan banyak masalah kesehatan masyarakat karena (1) anemia berat akan meningkatkan risiko kematian ibu dan anak serta (2)  menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan fisik dan kognitif pada anak, serta (3) penurunan performa kerja pada orang dewasa.

Berikut tabel dari WHO untuk nilai batas anemia :

Untuk nilai yang lebih rinci berdasar umur dapat dilihat pada referensi : Microcytic anemia

Apa faktor risiko?

Cadangan besi pada bayi didapat dari ibu terutama pada trimester ketiga kehamilan (>28 minggu), sehingga bayi yang lahir prematur berisiko memiliki cadangan besi yang lebih rendah daripada bayi yang lahir cukup bulan. Perlu diingat adalah kondisi ibu hamil, harus diketahui status Hb ibu hamil, karena Hb yang rendah menjadi risiko perdarahan pada persalinan. Data WHO ibu hamil di Asia tenggara 85.6% mengalami anemia, dan wanita usia produktif yang tidak hamil 85.4% mengalami anemia sehingga penting sekali perempuan usia produktif memeriksa status kesehatan dan Hb mereka.(*Terutama bila berencana untuk hamil)

Faktor risiko  adalah :

1.Bayi

–          Kondisi kehamilan yang mengakibatkan rendahnya cadangan besi pada bayi :

  • Defisiensi besi pada ibu
  • Tekanan darah tinggi pada ibu hamil dengan pertumbuhan janin terhambat
  • Ibu dengan diabetes melitus

–          Bayi berat lahir sangat rendah, karena :

  • Besi yang diberikan dari ibu sedikit
  • Tumbuh lebih cepat setelah lahir
  • Tidak mendapat asupan besi yang cukup

2. Anak- remaja :

–          Kekurangan asupan makanan yang kaya zat besi (formula tidak fortifikasi dengan besi, susu sapi sebelum usia 6 bulan, vegetarian, pola diit tidak seimbang pada remaja)

–          Terlalu banyak konsumsi susu sapi

–          Penyerapan besi yang tidak optimal (malabsorbsi di usus, pembedahan lambung, hypochlorrhidia)

–          Peningkatan kebutuhan besi

–          Kehilangan darah

  • Menstruasi
  • Saluran cerna (Enteropathy karena susu, Inflammatory bowel disease, ulkus peptikum, esofagitis karena reflux, cacing tambang, kanker)

–          Gangguan saluran kemih, napas, jantung (Selengkapnya dapat dilihat pada referensi Pediatric Care Online. Iron Deficiency Anemia.)

Cara mengetahuinya :

Gejala yang mengarahkan kepada anemia :

–          Lesu

–          Rewel

–          Nafsu makan menurun

–          Berat badan sulit bertambah

Catatan: Namun demikian, apabila anak belum mengalami anemia (baru tahapan deplesi dan defisiensi zat besi, maka biasanya gejala di atas tidak diketemukan.

Pada pemeriksaan fisik, pada umumnya tidak ada kelainan kecuali pucat pada membran mukosa (konjungtiva mata, gusi, lidah) dan kulit (lipatan telapak tangan) dan jaringan di bawah kuku (pada orang dengan kulit gelap).

Pemeriksaan penyaringan (screening) disarankan oleh American Academy of Pediatric pada saat anak berusia 1 tahun. Pemeriksaan laboratorium untuk screening ADB adalah:

Pemeriksaan rutin untuk skrining anemia defisiensi besi adalah:

–          Pemeriksaan Hb

–          Pemeriksaan red cell indices (MCV, MCH)

–          Feritin; Transferin/TIBC; Zat besi di serum (Serum Iron)

Catatan:

[2]MCV : mean cospuscular volume

RDW : Red blood cell distribution width

TIBC : total iron binding capacity

TATA LAKSANA ADB

  • Terapi zat besi dilakukan 2-3 bulan setelah Hb kembali ke nilai normal.(diskusikan dengan DSA)
  • Pola makan kaya zat besi harus dilakukan dengan optimal.
  • Monitoring Hb perlu dilakukan 1 bulan setelah terapi suplementasi zat besi. Peningkatan Hb 1 g/dl menunjukan respon yang baik terhadap terapi suplementasi besi. Bila tidak ada kenaikan maka perlu dievaluasi ulang mengenai diagnosa dan atau cara pemberian suplementasi besi kepada anak.

Sumber :

http://who.int/vmnis/anaemia/data/database/countries/idn_ida.pdf [3]

https://www.pediatriccareonline.org/pco/ub/view/Point-of-Care-Quick-Reference/397190/0/Anemia__iron_deficiency?amod=aapea&login=true&nfstatus=401&nftoken=00000000-0000-0000-0000-000000000000&nfstatusdescription=ERROR:+No+local+token[4]

http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm?doc_id=5143 [5]

http://www.mja.com.au/public/issues/193_09_011110/pas10224_fm.html [6]

http://www.rch.org.au/immigranthealth/clinical/Iron_deficiency_and_anaemia/

Diperbaharui : 22 Maret 2017

Share artikel ini: