Ancaman terhadap bakteri super yang kebal terhadap antibiotik sudah di depan mata. Simak artikel mengenai habisnya masa antiibotik di zaman pasca antibiotik http://milissehatyop.org/?p=2356.

Salah satu strategi mengendalikan superbugs adalah dengan menggunakan antibiotik secara bijak. Penggunaan antibiotik secara bijak meliputi: konsumsi antibiotik sesuai indikasi, tidak menggunakan antibiotik untuk infeksi virus, menggunakan antibiotik spektrum sempit, mengkonsumsi antibiotik dengan dosis dan durasi yang tepat.

Saat ini, penyalahgunaan antibiotik masih tinggi. Hal tersebut didukung oleh peresepan yang berlebihan oleh dokter.  Sebuah penelitian di San Fransisco pada tahun 2013 mendapatkan bahwa peresepan antibiotik untuk radang tenggorokan dan bronchitis akut sangatlah tinggi, padahal kedua penyakit tersebut tidak memerlukan antibiotik. Menyikapi data tersebut, Dr. Jeffrey Linder dari Fakultas Kedokteran Harvard, Boston menyatakan bahwa perilaku peresepan saat ini sangat buruk, jauh dari kata ‘benar’.

Berdasarkan analisis dari National Ambulatory Medical Care Survey, sekitar 94 juta pasien dalam kurun waktu 13 tahun (1997-2010) yang datang berobat dengan keluhan batuk dan nyeri tenggorokan. Antibiotik diresepkan 60% pada pasien dengan nyeri tenggorokan dan 73% pada bronchitis akut, padahal radang tenggorokan yang memerlukan antibiotik sejumlah 10% dan tidak ada (0%) bronchitis akut yang memerlukan terapi antibiotik. Angka tersebut dianggap cukup tinggi (6x lipat dari yang seharusnya).

Kesalahan terjadi bukan saja saat meresepkan antibiotik untuk penyakit yang tidak memerlukannya tetapi kesalahan juga ditemui pada jenis antibiotik yang diresepkan. Antibiotik yang diresepkan cenderung antibiotik yang lebih baru dan lebih mahal, hal ini membahayakan karena meningkatkan risiko kekebalan bakteri terhadap antibiotik yang baru tersebut.

Bronkitis akut, merupakan peradangan di saluran napas. Bronchitis akut biasanya merupakan kelanjutan dari infeksi virus saluran napas seperti selesma atau influenza (penyebab kedua penyakit tersebut adalah virus). Batuk merupakan gejala utama bronchitis akut yang dapat berlangsung sampai 3 minggu. Sayangnya, banyak pasien tergopoh-gopoh ke dokter di hari ke 5-8. Saat itulah peluang peresepan antibiotik.

Apakah kita benar-benar gagal total menyelamatkan antibiotik?

Dr.Linder mengatakan, kita masih memiliki harapan. Jumlah kunjungan ke Dokter akibat radang tenggorokan menurun. Pada tahun 1997 adalah 7,5% dan menjadi 4,3% pada tahun 2010.  Linder mengatakan, hal tersebut disebabkan oleh pasien yang lebih selektif memutuskan untuk berobat ke dokter atau tidak.

Pengetahuan pasien terhadap penyakit juga kesadaran untuk tidak meminta resep antibiotik merupakan harapan baru untuk mengendalikan penyalahgunaan antibiotik. Cukup sering, dokter meresepkan antibiotik bukan berdasarkan indikasi medis melainkan permintaan pasien. Bukanlah hal mudah menjelaskan panjang lebar mengenai resistensi antibiotik di kamar praktek.

Perubahan harus dilakukan dari semua pihak. Penyelamatan antibiotik bukan hanya tanggung jawab petugas kesehatan dan pemerintah.

Andalah (pasien) sang penyelamat itu!

Save antibiotics! (WK)

Sumber:

  1. Antibiotics Still Overprescribed for Sore Throats, Bronchitis. http://www.medscape.com/viewarticle/812109
  2. Antibiotik. WHO Formulary 2008
Share artikel ini: