Amfoterisin B diberikan melalui injeksi karena tidak diserap melalui saluran cerna. Amfoterisin B toksik terhadap ginjal, sediaan dalam larutan lemak dapat mengurangi efek toksiknya terhadap ginjal, namun sediaan ini lebih mahal.

Indikasi    : Infeksi jamur berat yang mengancam nyawa, termasuk : Histoplasmosis, Coccidioidomycosis, paracoccidioidomycosis, blastomycosis, aspergillosis, cryptococcosis, mucormycosis, sporotricchosis, dan candidosis. Leishmaniasis.

Kontraindikasi  : Gangguan fungsi ginjal, Kehamilan dan menyusui.

Dosis :

  • Infeksi jamur sistemik (melalui injeksi intravena)
    • Dosis awal 1 mg selama 20-30 menit dilanjutkan dengan 250 mikrogram/kg perhari, dinaikan perlahan sampai 1 mg/kg perhari, pada infeksi berat dapat dinaikan sampai 1.5 mg/kg perhari.

Catatan: terapi diberikan dalam waktu yang cukup lama. Jika terapi sempat terhenti lebih dari 7 hari maka dosis lanjutan diberikan mulai dari 250 mikrogram/kg perhari kemudian dinaikan secara bertahap.

Sediaan     :

–          Vial 50 mg

Interaksi obat:

–          Amikasin, siklosporin, Gentamisin, paromomycin, pentamidine, Streptomycin, Vancomycin : meningkatkan risiko kerusakan ginjal.

–          Dexamethasone, Furosemide, hidroklorotiazide, Hydrocortisone, Prednisolone : menignkatkan risiko hipokalemia.

–          Digoxin : amphoterisin B meningkatkan risiko keracunan digoxin.

–          Fluconazole : melawan kerja amphoterisin B.

Efek Samping    : Demam, sakit kepala, mual, turun berat badan, muntah, lemas, diare, nyeri otot dan sendi, kembung, nyeri ulu hati, gangguan ginjal (termasuk hipokalemia, hipomagnesemia, kerusakan ginjal), kelainan darah, gangguan irama jantung, gangguan saraf tepi, gangguan fungsi hati, nyeri dan memar pada tempat suntikan.

Share artikel ini: