Windhi Kresnawati

Setelah berusia 6 bulan, kebutuhan nutrisi bayi tidak dapat dipenuhi oleh ASI saja. Selain itu, kesiapan bayi untuk makan rata-rata terjadi pada usia 6 bulan. Pada periode ini, bayi diperkenalkan dengan makanan padat lunak yang lebih dikenal dengan MPASI (Makanan Pendamping ASI). Periode MPASI merupakan periode yang rentan terhadap kekurangan nutrisi oleh karena itu, seni memberikan MPASI perlu dikuasi orangtua sehingga mencegah terjadinya malnutrisi.

Berbagai masalah yang sering muncul pada periode MPASI adalah:

  1. Memberikan MPASI dengan kualitas nutrisi yang rendah
  2. Terlalu dini memulai pemberian MPASI
  3. Terlalu lambat memulai pemberian MPASI
  4. Jumlah MPASI sedikit
  5. Frekuensi pemberian MPASI kurang
  6. Pemberian ASI berkurang

Oleh karena itu, WHO merekomendasikan 10 prinsip pemberian MPASI, yang terdiri dari:

  1. Berikan MPASI sejak usia 6 bulan dan ASI tetap dilanjutkan.
  2. Tetap berikan ASI sesuai keinginan bayi. ASI dapat dilanjutkan sampai usia 2 tahun.
  3. Terapkan “responsive feeding” dan pendekatan psikososial saat memberi makan anak.
  4. Perhatikan kebersihan penyiapan makanan.
  5. Naikkan jumlah makan secara bertahap.
  6. Tingkatkan konsistensi dan variasi secara bertahap.
  7. Tingkatkan frekuensi makan anak secara bertahap.
  8. Pilihlah makanan kaya nutrisi.
  9. Berikan fortifikasi seperlunya.

10. Saat anak sakit, berikan lebih banyak minum, ASI, dan tawarkan makanan favorit anak. Setelah sakit, berikan makanan lebih banyak dari biasanya.

Prinsip 1 : MPASI mulai 6 bulan

Memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan menguntungkan bagi ibu maupun bayi. Salah satu keuntungannya adalah mencegah infeksi saluran cerna. Pada usia 6 bulan, berat badan bayi seharusnya mencapai dua kali lipat dari berat lahir dan bayi menjadi lebih aktif. Oleh karena itu, ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan energi untuk bertumbuh dan berkembang. Selain alasan kebutuhan energi, MPASI diberikan usia 6 bulan sangat tepat dengan kesiapan bayi menerima makanan padat. Saluran cerna bayi sudah cukup matur untuk mencerna protein, serat, lemak dalam bentuk yang lebih padat (selain susu). Pada usia yang lebih muda bayi cenderung menjulurkan lidah saat diberikan makanan padat, namun saat usia 6 bulan ke atas bayi sudah mampu mengunyah dengan baik.

Prinsip 2: ASI tetap diberikan selama periode MPASI dan dilanjutkan sampai usia 2 tahun.

Menyusui tetap dilanjutkan selama periode MPASI dan dapat dilanjutkan terus sampai usia 2 tahun. Pemberian ASI sesuai dengan keinginan bayi. Pada usia 6-12 bulan, ASI memenuhi setengah dari kebutuhan energi sehari-hari. Pada usia 12-24 bulan, ASI hanya memenuhi sepertiga kebutuhan energi. Selain memberikan sumbangan nutrisi, ASI juga memberikan kekebalan tubuh. ASI adalah andalan nutrisi di saat bayi sakit. Pemberian ASI menurunkan angka kesakitan dan kematian.

Prinsip 3: Terapkan “responsive feeding” dan pendekatan psikososial saat memberi makan anak.

Pemberian MPASI yang optimal bukan hanya meliputi ”APA” yang dimakan bayi, tetapi harus memperhatikan “BAGAIMANA”, “KAPAN”, “DIMANA” dan “SIAPA” yang memberi makan bayi. Gaya memberi makan anak mempengaruhi keberhasilan MPASI. Istilah “responsive feeding” digunakan untuk menggambarkan adanya hubungan psikososial antara pemberi makan dan penerima makan. Bayi harus memiliki piring / mangkuk sendiri sehingga pemberi makan dapat mengetahui apakah bayi mendapat cukup makan. Pemberian makan dapat menggunakan sendok atau tangan yang bersih tergantung dari budaya setempat.

Empat prinsip responsive feeding:

  1. Berikan makan dengan sabar dan perlahan, jangan dipaksa. Bayi yang lebih besar dapat menyuap makanannya sendiri, namun tetap perlu dibantu.
  2. Jika anak menolak berbagai jenis makanan, cobalah variasi makanan, rasa, tekstur dan metode makan.
  3. Hindari gangguan, pengalihan perhatian saat makan apalagi jika anak sangat mudah teralihkan.
  4. Ingatlah bahwa makan merupakan saat belajar dan mencintai, bicaralah dengan anak dan gunakan kontak mata.

Prinsip 4:Kebersihan penyiapan makanan.

Diare apda usia 6-12 bulan sangat sering terjadi akibat pembuatan dan pemberian MPASI yang tercemar dan tidak higienis. Emberian makanan cair dengan cangkir lebih baik dari pada menggunakan botol. Semua peralatan makan bayi harus dicuci bersih. Jangan lupa mencuci tangan bayi dan pemberi makan sebelumnya. Pastikan tangan anak bersih sebelum memulai “finger food” (makanan yang dapat digenggam oleh anak). Ingatlah bahwa bakteri berkembang biak pada suhu yang hangat sehingga jangan biarkan makanan lebih dari dua jam di suhu ruangan.

Prinsip makanan sehat:

–          Bersih

–          Pisahkan antara makanan mentah dan matang

–          Masaklah sampai matang merata

–          Simpan pada temperature yang aman

–          Gunakan air yang aman dan gunakan bahan mentah yang sehat

Prinsip 5: Naikkan jumlah makan anak secara bertahap.

Jumlah makanan yang diberikan kepada bayi seharusnya memenuhi kebutuhan kalorinya setiap hari. Air susu ibu dapat memenuhi seluruh kebutuhan energi sampai usia 6 bulan, setelah itu terdapat kekurangan sumber energi yang harus dipenuhi oleh MPASI. Jumlah kalori tambahan yang diperlukan sekitar 200 kkal perhari pada usia 6-8 bulan, 300 kkal perhari pada usia 9-11 bulan dan 550 kka perhari pada usia 12-23 bulan. Hal tersebut dihitung jika ASI tetap diberikan. Tampak jelas bahwa kebutuhan energi meningkat seiring dengan bertambahnya usia, itulah mengapa pemberian MPASI harus bertambah dari segi kuantitas dan frekuensi untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan kalori.

Tabel 1: Panduan praktis mengenai kualitas, frekuensi, dan jumlah makanan pada anak usia 6-23 bulan yang masih menyusui. (Apabila bayi tidak menyusui, tambahkan 1-2 gelas susu formula dan tambahkan frekuensi pemberian MPASI 1-2 kali perhari)

Usia Energi yang dibutuhkan selain ASI (perhari) Tekstur Frekuensi Jumlah makanan yang diberikan
6-8 bulan 200 kkal Mulailah dengan bubur kental yang halus / lumat.

Lanjutkan dengan beraneka ragam makanan keluarga yang dihaluskan.

2-3 kali perhari.

Dapat ditambahkan snack 1-2 kali

Mulailah dengan 2-3 sendok setiap makan, tingkatkan jumlah secara bertahap sampai berjumlah setengah cangkir ukuran 250 mL
9-11 bulan 300 kkal Makanan yang dicincang / bubur kasar. 3-4 kali sehari.

Dapat ditambahkan snack 1-2 kali perhari

Setengah cangkir ukuran 250 mL
12-23 bulan 550 kkal Makanan keluarga (dihancurkan sebelumnya bila perlu) 3-4 kali sehari.

Dapat ditambahkan snack 1-2 kali perhari

Tiga perempat cangkir ukuran 250 ml naikan bertahap sampai satu cangkir

Sangat penting memerhatikan tekstur dan kekentalan makanan sebab hal tersebut memengaruhi volume dan kandungan energi. Misalnya untuk jenis makanan cair seperti ASI, kandungan energinya sekitar 0,6-1 kkal pergram; makanan yang lebih encer (berkuah dan encer) kandungan kalori hanya 0,3 kkal pergram. Kandungan kalori yang diharapkan pada MPASI adalah sekitar 1 kkal pergram dan dapat dicapai jika makanan cukup kental. Selain kekentalan, jenis MPASI juga memengaruhi jumlah kalori yang dikandungnya, seperti jika kandungan lemak lebih banyak maka kalori lebih tinggi. Berdasarkan uraian tersebut kita tau bahwa semakin kental dan padat jenis MPASI maka semakin sedikit jumlah yang perlu dikonsumsi anak untuk mencukupi kebutuhan kalorinya. MPASI harus merupakan makanan yang lebih tinggi kalorinya daripada ASI. Adalah salah kaprah memberikan MPASI dibawah standar ASI. Jika MPASI yang diberikan dibawah standar ASI, maka tujuan pemberian MPASI untuk memenuhi kekurangan energi tidak tercapai. Perlu diketahui bahwa ASI mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral, sehingga MPASI wajib memiliki kandungan yang kaya nutrisi. Pada saat anak sakit maka napsu makan berkurang, pada saat ini pemberian MPASI memerlukan ekstra kerja keras seperti memilih makanan yang menggugah selera, memberi makan dengan lebih sedikit namun lebih sering, memberi makanan dengan lebih pelan dan sabar. Setelah kondisi anak pulih dan napsu makan kembali baik, jangan lupa ‘membayar’ kekurangan asupan kalorinya selama sakit.

Prinsip 6: tingkatkan konsistensi variasi makanan secara bertahap.

Konistensi makanan harus dinaikkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan neuromuscular anak. Secara umum prinsipnya adalah sebagai berikut:

–          Usia 6 bulan : jenis makanan lumat (puree, mashed, semi-solid)

–          Usia 8 bulan: anak dapat diperkenalkan finger food, makanan pada yang dapat digenggam dan dimakan sendiri.

–          Usia 12 bulan: anak sebaiknya dapat makan makanan yang sama dengan seluruh anggota keluarga. Meskipun demikian, makanan yang berisiko tersedak harus dihindari seperti kacang utuh.

Periode emas meningkatkan konsistensi makanan adalah sebelum usia 10 bulan, jika sesudah usia 10 bulan anak masih kesulitan makan makanan padat maka besar kemungkinan mengalami gangguan makan di kemudian hari.

Jumlah kalori bukan hanya dipengaruhi oleh tekstur tetapi variasi makanan. Kalori yang lebih besar dapat dicapai dengan pemberian makanan hewani seperti daging sapi, daging ayam, ikan, dsb. Berikanlah segera setelah anak mampu mengunyah makanan padat. Pemberian MPASI yang kurang bervariasi (contoh buah saja) dapat menuju kepada kekurangan gizi.

Prinsip 7: Tingkatkan frekuensi makan anak secara bertahap.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, kebutuhan energi bertambah. Makanan dapat dibagi menjadi beberapa porsi besar. Jumlah makan pada bayi bergantung hal berikut:

–          Jumlah energi yang dibutuhkan setiap hari.

Makin banyak energi yang dibutuhkan, makin banyak makanan yang harus dikonsumsi.

–          Jumlah makanan yang mampu dikonsumsi anak setiap kali makan.

Porsi makan bergantung pada daya tampung lambung anak. Pada umumnya besar lambung adalah 30 mL per kg berat badan. Misalnya pada anak dengan berat 8 kg, dapat diberikan makan sejumlah 240 ml (satu cangkir penuh). Anak tidak dapat dipaksa makan melebihi kapasitasnya.

–          Jumlah kepadatan energi yang terkandung pada makanan.

Energi yang terkandung pada MPASI harus lebih padat dari pada ASI. Energi pada MPASI minimal 0,8 kkal per gram. Jika energi pada MPASI lebih rendah maka memerlukan volume yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan anak.

Pada tabel 1 dapat kita lihat frekuensi makan yang bertambah seusia usia. Dimulai dengan 2-3 kali sehari saat usia 6-8 bulan sampai 3-4 kali sehari saat usia 9-23 bulan. Snack dapat ditawarkan 1-2 kali sehari tergantung napsu makan anak. Yang dimaksud dengan snack di sini adalah makanan yang konsumsi anak di antara jadual makan padat. Snack dapat berupa finger foo. Makanan yang digoreng mengandung kalori lebih tinggi. Anak yang makan terlalu sedikit tidak dapat memenuhi kebutuhan energinya sehingga rentan terjadi malnutrisi. Jika anak makan terlalu banyak maka menyusui akan lebih sedikit bahkan berhenti menyusu. Dengan demikian, frekuensi dan jumlah makan harus dinaikan bertahap sehingga dapat mempertahankan produksi ASI.

Prinsip 8: Pilih makanan kaya nutrisi.

Pada prinsipnya MPASI harus mengandung energi, protein, dan mikronutrien yang cukup untuk memenuhi kebutuhan anak. Terdapat kebutuhan yang cukup besar terhadap zat besi, namun tidak dapat dipenuhi dari ASI sehingga sangat penting memilih MPASI dengan kandungan besi yang tinggi seperti daging sapi, ayam, ikan, dan kacang-kacangan. Saat memberikan makanan tinggi besi, dapat diberikan makanan yang mengandung vitamin C (jeruk, tomat)untuk memperlancar penyerapan zat besi. Sumber zat besi terbaik adalah makanan hewani.

MPASI yang baik adalah yang berbahan dasar lokal (makanan pokok penduduk setempat). Makanan pokok yang mengandung tinggi karbohidrat adalah serealia (beras) dan akar-akaran (ubi, singkong, kentang).

Kelompok makanan di bawah ini dianjurkan selalu diberikan saat menyiapkan makan:

  1. Makanan hewani / ikan: makanan ini tinggi protein, besi dan zink. Hati mengandung vitamin A dan folat. Kuning telur adalah sumber protein dan vitamin A tetapi miskin besi. Berikan anak dalam bentuk padat bukan hanya kuah atau kaldu.
  2. Kacang-kacangan: merupakan kelompok makanan yang tinggi protein dan zat besi.
  3. Sayur dan buah yang berwarna orange (wortel, labu kuning, mangga, papaya) dan daun hijau mengandung vitamin A dan vitamin C.
  4. Lemak. Lemak dapat membuat rasa makanan lebih enak dan menambah jumlah kalori pada makanan. Lemak juga dapat membantu penyerapan vitamin A, D, E, K. Lemak jangan diberikan melebihi 30-45% kebutuhan energi.

Lima syarat MPASI yang ideal:

  1. Tinggi energi, protein, dan mikronutrien (terutama besi, zink, kalsium, vitamin A, vitamin C dan asam folat)
  2. Tidak pedas dan tidak asin.
  3. Anak dapat mengunyah dan makan dengan mudah
  4. Anak menyukai makanan tersebut
  5. Makanan mudah didapatkan dan terjangkau secara ekonomi

Hal-hal berikut juga perlu diketahui dalam memberikan jenis MPASI pada anak:

  1. Vegetarian tidak dapat memenuhi kebutuhan proteinnya pada usia 6-23 bulan sehingga memerlukan tambahan suplemen mikronutrien.
  2. Gula merupakan sumber energi tidak memiliki kualitas nutrisi sehingga tidak dianjurkan diberikan sebagai bumbu pada MPASI. Selain itu, gula dapat merusak gigi anak dan menyebabkan obesitas. Miuman manis yang mengandung gula juga tidak disarankan karena dapat membuat anak kenyang dan menolak makan.
  3. Kopi dan teh tidak dianjurkan karena dapat mengganggu penyerapan besi.
  4. Banyak orangtua yang ketakutan memberikan MPASI pada anak dengan alasan takut reaksi alergi. Hal tersebut tidak dianjurkan karena pembatasan makanan hanya menyebabkan kurangnya asupan nutrisi dan tidak terbukti dapat mencegah alergi. Berikanlah anak makanan yang bervariasi sejak usia 6 bulan. Anak dapat diperkenalkan makanan yang mengandung susu, telur, kacang, ikan dan kerang sejak usia 6 bulan.

Prinsip 9: Berikan fortifikasi seperlunya.

Idealnya, MPASI mengandung bahan hewani. Pemberian MPASI yang didominasi bahan nabati sangat berisiko kekurangan besi. Namun demikian pada beberapa populasi penduduk tidak dapat dipaksakan memberikan MPASI hewani karena daya beli yang kurang dan nutrisi hewani lebih mahal. Dalam hal seperti ini, fortifikasi / suplementasi dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien anak.

Suplementasi tersebut meliputi:

  1. Vitamin A

WHO dan UNICEF menganjurkan pemberian suplementasi vitamin A pada anak usia 6-59 bulan pada negara-negara yang memiliki risiko tinggi defiseinsi vitamin A. vitamin A dibutuhkan terutama pada kondisi infeksi campak, diare, penyakit pernapasan, cacar air atau infeksi berat.

  1. Zat besi

Pemberian suplemen besi dianjurkan selama masa MPASI. Pemberian suplemen besi harus hati-hati pada daerah endemis malari dan pada daerah dengan prevalensi infeksi tropis yang tinggi. Pemberian suplementasi besi pada daerah endemis malaria tidak direkomendasikan. Pemberian zat besi pada daerah endemis malaria harus melalui skrining zat besi juga memastikan tersedianya akses terhadap pengobatan malaria.

  1. Iodine.

Pemberian suplementasi iodine dianjurkan oleh WHO pada tahun 1994 melalui garam yang difortifikasi. Hal tersebut dianjurkan pada daerah dengan angka defisiensi iodine yang tinggi. Ibu hamil, anak di bawah 2 tahun, dan ibu menyusui adalah kelompok rentan kekurangan iodium.

  1. Zink

Suplementasi zink diberikan pada anak yang mengalami diare, dengan dosis 20 mg perhari selama 10 hari.

Prinsip 10: Berikan ASI lebih banyak pada saat anak sakit.

Sangat penting mempertahankan produksi ASI selama periode MPASI. ASI merupakan andalan nutrisi selama sakit, karena pada saat sakit, pada umumnya anak tidak napsu makan. Tawarkan anak makanan yang lembut dan makanan favoritnya selama sakit. Berikan ASI lebih banyak dan lebih sering selama sakit. Asupan MPASI pada saat sakit dapat berkurang, maka pemberian MPASI dapat ditingkatkan setelah anak sembuh dan napsu makan kembali.

Sumber: Infant and young child feeding, model chapter for textbooks for medical students and allied health professionals. World Health Organization. 2009

Share artikel ini: